Wednesday, September 21, 2011

AKU


Namanya lengkapnya adrianto hidayat. Terkadang orang-orang memanggilnya dengan sebutan anto, yayat, Adrian, dan Adri. Baginya nama bukanlah suatu hal yang menentukan dengan siapa ia akan bergaul. Iapun menikmati kepemilikan atas nama-nama tersebut. yayat biasanya digunakan oleh orang-orang terdekatnya seperti ayah dan ibu.. Anto dan Adrian sendiri sering dipakai oleh teman-teman untuk menyapanya. Yang terakhir adalah Adri, nama ini memang belum popular di tengah-tengah pergaulannya. Sampai saat ini hanya hanya seorang yang memanggilnya seperti itu. Saat ditanya tentang siapakah seseorang itu, Ia hanya menjawabnya dengan senyuman. Biarkan saja itu menjadi rahasianya.

Adrianto lahir di salah satu pulau berbentuk huruf ‘K’ tepatnya di Indonesia_ Ujung Pandang, sekarang berganti nama dengan kota Makassar. Senin, 14 agustus 1989 adalah waktu kala pertama kali Ia dilahirkan. Pertama kali pula ia mengenal dunia melalui lantunan adzan.
Orangtuanya asli bugis; yup bugis bulukumba. Anak kedua dari dua bersaudara ini hanya berselisih dua tahun dari kakaknya. Dia sangat menginginkan seseorang yang dipanggilnya sebagai adik, olehnya itu sering Ia bertindak sebagai sosok kakak dibanding saudaranya yang lain. Tapi itu bukan salah satu alasan baginya untuk mengedepankan logika daripada perasaannya. Juga bukan untuk melakukan sedikit akselerasi pemikiran seperti orang-orang dewasa yang jauh lebih tua darinya. 


Makassar, Bulukumba, Watampone, dan Majene adalah empat kota yang membantu untuk merangkai bingkai masa depannya. Kurang lebih setahun di majene, tiga tahun di watampone, selebihnya Makassar dan bulukumba. Lain lubuk lain ikannya; lain kota, tentu saja orang-orangnya beda; lain orang, ceritanyapun beda. Di sela kesibukannya saat ini sebagai kaum intelektual muncullah sedikit komentar menarik, lucu nan sedikit bodoh tentang kehidupannya pada tempat-tempat di atas. Sepasang meraknya di majene entah saat ini sudah memiliki berapa banyak keturunan. Saking lamanya, ia tak ingat lagi berapa banyak bulu yang dimiliki oleh burung-burung peliharaannya itu. Watampone sepertinya terlalu luas untuk menemukan kembali kura-kura yang Ia lepaskan sehari sebelum kepindahannya ke kota lain. Saat Malam datang, dalam tidurnya Ia sering bermimpi. Aneh, ia sering mengucapkan ayat alquran dengan mata tertutup. Pagi datang, semuanyapun kembali normal. “awalnya, bapak Ibu mengira saya dalam pengaruh hal-hal yang gaib, tpi seiring jalannya waktu dan semua baik-baik saja; tiap kumat yah dibiarin begitu saja hehe “ sahutnya penuh canda. 

Setiap orang pastinya punya tanda lahir. Berbicara tentang itu, sambil terkekeh Ia menunjuk pergelangan kaki kanannya. Putih berbintik, begitulah Ia menyebutnya sebagai bawaan dari lahir. Ia memiliki tahi lalat di dahi kanan dan sepasang di lehernya. Orang dulu bilang, kalau letaknya di leher itu berarti orangnya tidak pilih-pilih makanan; semunya dilumat asalkan halal. Dikaitnya dengan kesehariannya, memang benar ia menganggukkan semua jenis makanan kecuali pada tempe. Yah ternyata dia tak suka makanan yang terbuat dari kedelai itu. Kenakalan masa kecilnyapun tak luput untuk meninggalkan bekas pada sekujur tubuhnya. Dua jari pada tangan kirinya terdapat bekas luka gores yang bersambungan, belum lagi beberapa pada lutut dan sikunya.

Dalam kesehariannya, anak yang memiliki tinggi badan 1.7 meter ini mengungkapkan beberapa hal yang iya dan tidak ia sukai. Ia mengaku tidak suka menggunakan sisir atau alat bantu lain untuk menata rambutnya, sepuluh jari tangan menurutnya lebih natural. Tak sekalipun ia menggunakan ikat pinggang, terakhir ia pakai ketika masih duduk di SMA. Ia senang bercermin, hampir tiap kali seusai mandi cermin di balik almarinya tetap setia untuk merefleksikan tubuh berbobot 60 kg_nya. Sebelum keluar rumah, di teras ia selalu menghadap ke kaca jendela ruang tamunya berharap penampilannya tetap menggambarkan kesederhanaan, tidak jelek dan tentunya juga tidak lebay. Di jalan, matanyapun tak lepas dari kaca mobil-mobil mewah untuk tetap melihat pantulan dirinya yang maya. Begitulah tingkahnya ketika bertemu dengan benda massif nan licin itu.

Saat inipun (20Sep2011) Iapun terdaftar sebagai salah seorang mahasiswa Arsitektur semester Sembilan pada salah satu PTN di kotanya. Belajar arsitektur membuatnya cukup untuk menggambarkan betapa indahnya dunia ini. Bebas berekspresi, berpersepsi, dan berapresiasi adalah salah satu hal yang menarik dalam dunianya. Jadi jangan ditegur kalau Ia sedang duduk terdiam, jika seperti itu artinya Ia sedang berkhayal sambil berusaha menyatukan imajinasi dan kehudupan nyatanya. Wahwah orang yang aneh. 

Di usinya yang kini berkepala dua; terlepas dari berbakti kepada orangtua,nusabangsa dan agama; job, travelling, dan married adalah hal yang menurutnya menjadi teka-teki masa depannya. Tidak pasti tapi secepatnya harus bisa dipastikan. Ketiga hal di atas paling tidak akan sangat berpengaruh selang 20-30 tahun ke depannya. dan Iapun menanggapinya dengan penuh senyum bermakna. Tak ada masa yang lebih indah selain masa depan tuturnya. 

Sedikit menyinggunng masa lalunya, lalu ketika ditanya siapa saja orang-orang yang pernah menjadi masa lalunya, Iapun sedikit mengerutkan dahinya sambil berkata “yang lalu adalah tempatku belajar, hari ini tempatku memperbaiki dan masa depan tempatku untuk menyempurnakan!” hehe cukup melankolis terdengarnya namun begitulah adanya. Entah pria atau wanita, altruism ataupun egoism pastinya punya dua sisi yang berbeda. Setidaknya ia masih memiliki sisi kelembutan dalam dirinya. 

Menurut pria dengan sense of humor cukup tinggi ini, hanya dengan ikhlas hidup ini akan indah. Ikhlas menerima segala sesuatunya, ikhlas bertawa dan menangis tanpa adanya kebohongan, serta ikhlas menghargai dan menempatkan orang-orang dan cinta mereka. Terlepas dari orangtua yang mengajarkannya berdiri dan kepercayaan yang mengajarinya untuk berjalan, bahwa orang-orang kecil dan tak berpunyalah di sekitarnya yang membantu untuk tetap selalu beringat kepadaNya, beringat bahwa hidup tidak hanya sekedar membawa kemana kaki kanmelangkah tapi sebenarnya hidup adalah hidup yang benar untuk orang lain. 

Sebagai akhir dari perjumpaan kali ini, Ia sempat melontarkan perkataan bahwa Dari banyak pilihan, pilihlah pilihan hidup yang terbaik. Sebab pilihan itu akan menentukan pilihan-pilhan terbaik pula selanjutnya. Sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik, namun sering-seringlah meminta kepadaNya, sebab keseringan ini adalah satu-satunya sesuatu yang berlebihan terbaik yang pernah ada di kehidupan manusia. Dan sejatinya pilihan adalah pilihan yang berasal dari keseringan ini.

G’d luck…

2 comments:

  1. Memilih itu perkejaan yg mudah namun seringkali membuat dilema dan terkadang harus menyakitkan ^_^

    ReplyDelete
  2. @decilmarucil cilik nan manis... bukankah tidak memilih itu juga termasuk pilihan??? owowow... serius banget sih....

    ReplyDelete