Thursday, September 22, 2011

Angin

     Antara curah hujan dan seluk beluk angin, terlebih di kawasan nusantara yang berupa arkipel, ada hubungan sebab musabab yang sangat erat. Yang disebut angin pada dasarnya adalah hawa udara yang bergerak. Gerak itu disebabkan karena bagian-bagian udara didorong dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Dan karena biasanya tempat yang dingin relatip lebih bertekanan tinggi daripada yang panas, maka arus angin biasanya mengikuti dorongan mengalir dari yang dingin kea rah yang relatiop panas.

    Gerakan angin tersebut ada yang bersifat makro, yakni yang mempunyai daerah sebab musabab antarbenua dan antarsamudra, jadi berkawasan gerak yang sangat luas. Lainnya adalah mikro atau lebih baik disebut angin-angin lokal.
     TEKANAN DAN HISAPAN ANGIN
      Sering orang-orang Jawa kuno dikeritik oleh kaum teknik, karena mereka membuat konstruksi soko-guru dan balok-balok tumpuk pada rumah-rumah atau pendopo-pendopo joglo jawa kuno, yang dianggapnya menghamburkan kayu dan karenanya mahal. Maka pernah suatu lembaga resmi membuat pendopo joglo dengan konstruksi ringan dan ekonomis. Satu kali terkena angin kencang dan merubuhkannya. Ternyata arsitek nenek moyang kita lebih hebat terhadap pengaruh angin dan hisapan angin. 

Cara-cara untuk mengatasinya adalah
a. Buatlah tanggul atau perisai di luar rumah, di tepi halaman misalnya dengan penanaman pohon-pohon yang tepat untuk dijadikan perisai. Pohon yang paling ideal adalah yang cepat bertumbuh tetapi berumur awet, akarnya kuat menahan angin dan kayunya elastic, daunnya kecil dan halus, luwes atau elastic juga menahan tekanan angin tanpa mudah rontok dan patah, sedapat mungkin berguna atau sedikitnya tidak mengurangi kesuburan tanah. Dari segi fisik, pohon-pohoin cemara yang tinggi yang ditanam rapat sungguh sangat baik dijadikan dinding penaggulangan angin. Akar-akarnya kuat dan hampir tidak bias tumbang. Lagi ia praktis sebagai penahan halilintar.

b. Pilihlah tanah persil yang terlindung pada lereng di belakang gunung dan sebagainya, yang sebenarnya juga berprinsip sebagai perisai. Dari penyelidikan angin local, orang dapat menarik kesimpulan tempat-tempat mana yang terkena angin.

c. Dari penelitian tanah di sekitar rumah yang aka dibangun, orang dapat memanfaatkan efek rem dari tanah yang tidak rata atau penuh dengan pohon dan predu semak-semak. Sehingga angin yang dating sudah terhambat dan kecepatannya berkurang.

d. Buatlah gedung yang relative rendah untuk untuk daerah-daerah angin kencang, dengan atap yang tidak berlereng curam.

e. Bentk dan konstruksi gedung pun harus diwujudkan begitu rupa, sehingga daya-daya tekanan positif di pihak angin mendapat sanggahan yang memadai dan berfungsi sebagai perisai juga. Sedangkan di pihak hisapan negative daya hisap di jawab dengan daya tarik menahan bagian-bagian yang mudah terpental keluar. 


No comments:

Post a Comment