Thursday, September 22, 2011

Kamus Arsitektur


KAMUS ARSITEKTUR


< A >

Abate
Menghilangkan atau melepaskan seperti pada mengukir batu. pada karya logam, berarti memotong atau memukul sehingga menunjukkan suatu pola atau gambar dalam relief rendah.

Absolute volume
Volume keseluruhan dari partikel, meliputi volume ruang-ruang hampa, volume dari suatu kandungan beton dan bahan perekat

Absorbed moisture
Kelembaban yang telah memasuki suatu benda padat dengan penyerapan dan memiliki cirri-ciri fisik yang tak berbeda dengan air biasa pada suhu dan tekanan yang sama.


Acetone
Larutan yang mudah terbakar dan mudah menguap, yang digunakan untuk larutan penghapus cat.

Acetylene
Gas yang tak berwarna bila dicampur dengan oksigen dan terbakar pada suhu 3500˚C


Adab
Tingkah laku, ahlak, atau budi pekerti yang baik, sabar, tenang dan mencerminkan dedikasi yang tinggi.

Aggregate
Benda butiran seperti pasir buatan, kerikil, kerikil belah, batu belah, mika alami, dan logam serpihan panas yang dingin oleh udara, yang bila disatukan menjadi massa konglomerat dengan suatu metric yang membentuk beton atau mortar.

Algoritme
Kaidah atau prosedur untuk memecahkan masalah metematis yang sering sekali mencakup pengulangan sebuah operasi.

Ambang
Balok yang melintang antara dua jendela atau pintu

Analisis
Penyelidikan suatu peristiwa (perbuatan,karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab penyebab sebenarnya, dsb)

Analisa sistem
Proses mempelajari suatu aktifitas secara tipikal dengan cara sistematis untuk menentukan tujuan akhir essensialnya dan bagaimana hal ini mungkin dicapai secara paling efisien.

ANCHOR BLOCK
Blok kayu yang menggantikan bata dalam sebuah dinding tembok untuk memberikan suatu bagian yang muka yang ketat.

ANCONE
 Siku atau konsol berikal yang menopang tonjolan cetakan pada pintu atau jendela.
 Bos yang menonjol di atas kolom (drum kolom) atau b;ok dinding.


ANGGAPAN / TRUTH
Kesesuaian dengan pengetahuan, fakta, kenyataan, atau logika.

Angle paddle
Alat genggam yang digunakan untuk menyelesaikan suatu permukaan berplaster.

Antefiks
Papan tegak yang digunakan pada Arsitektur klasik dan merupakan tambahan untuk menutup bagian yangt terbuka pada deretan ubin-ubin yang menutup sambungan-sambungan genteng dan hiasan yang sama pada tepian atap.




Annealing
Proses pemegangan atau penguatan suatu material pada suhu yang dinakkan tetapi di bawah titik leburnya untuk memudahkan peralatan tekanan pada material tersebut.

Arch
Konstruksi lengkung yang merentangi pintu biasanya terdiri dari blok-blok yang berbentuk biji yang disebut voussioir atau bagian struktur lengkung tajam yang ditopang pada sisi atau ujungnya.

ARCHITECTURAL PROGRAMMING
Sebuah proses yang menjurus kepada pernyataan masalah arsitektural dan kebutuhan- harus dipenuhi dalam mengajukan pemecahan.

ARCHITECTURAL CONCRETE
 Beton kuat yang digunakan untuk bangunan dan ornament.
 Pada struktur-struktur kerangka non beton, merupakan beton yang tampak digunakan untuk kepentingan astetis.

ARCADE
 Garis pada lengkung yang berlawanan pada kolom-kolom.
 Lorong yang tertutup dengan garis pada lengkung-lengkung di sepanjang lorong itu atau dikedua sisinya.

 Lorong pada took-toko atau kantor-kantor di satu sisinya.
 Lorong yang beratap yang segaris dengan bagian depan took-toko atau kantor.

ARRIS FILLET.
Sepotong kayu segitiga yang digunakan untuk mengganjal atau menaikkan ubin atau batu tulis atap berlawanan dengan poros cerobong, untuk membuang air hujan secara efektif.

ARSITEK
 Orang yang ahli dalam perencanaan kota, bangunan, baik secara makro maupun mikro.
Makro : perencanaan kota
Mikro : Fungsi, symbol, teknologi, struktur, konstruksi bangunan.
 Ahli seni bangunan.

ARSITEKTUR
 Ilmu atau seni pembuatan bangunan.
 Perwujudan budaya manusia dalam hal pembuatan tata ruang bagi kegiatan hidupnya agar berkembang. Jadi dasar-dasar asas perencanaan dan perancangan arsitektur adalah prinsip dasar dan pedoman pokok dalam suatu rangkaian perumusan dari pada maksud, cara, harapan yang jelas, teratur, tidak kacau untuk diatur dalam mencapai tujuan, agar tidak boleh gagal, serta merupakan rangkaian

 perubahan, sketsa gambaran pola diterapkan dan tidak boleh terdapat penyimpangan dalam perwujudan budaya manusia dalam hal pembuatan ruang bagi kegiatan hidupnya agar berkembang.
 Seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan.
 Metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan.

ASAS
 Hukum dasar suatu kebenaran yang menjadi pokok alasan.
 Prinsip dasar, pedoman pokok.

ASBESTOS STRUCTURAL ROOFING
Papan semen asbes berat yang secara langsung ditopang oleh kerangka atap, yang membentuk geladak atap dan memberikan permukaan atap selama pemakaian.

Arrisfillet Doubling Picce
Sepotong kayu segitiga yang digunakan untuk mengganjal atau menaikkan ubin atau batu tulis.

Arcade
 Garis pada lengkung yang berlawanan pada kolam-kolam
 Lorong yang tertutup dengan garis pada lengkung-lengkung di sepanjang lorong itu atau di kedua sisinya.
 Lorong pada toko-toko atau kantor di satu sisinya.

 Lorong yang beratap yang segaris dengan bagian depan toko-toko atau kantor-kantor.

Aqncon
Siku atau konsol berikal yang menopang tonjolan

Ancone
 Cetakan atau pintu dan jendela
 Balok yang menonjol di atas kolam (drum kolom) atau balok dinding.

Ancor
Balok kayu yang menggantikan bata dalam sebuah dinding tembok untuk memberikan suatu bagian.

All concrete
 Beton kuat yang digunakan untuk bangunan.
 Ornamen pada struktur kerangka non beton merupakan beton yang tampak digunakan untuk kepentingan astesis.

Architecturel programming
Sebuah proses yang menjurus pada pernyataan masalah arsitektural dan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam mengajukan pemecahan.

Arsitektural vernakuler
Arsitektur modern yang mengacu pada tradisi, budaya lingkungan termasuk iklim di mana bangunan didirikan.

Azas
Hukum dasar suatu kebenaran yang menjadi pokok alasan

Asbestos structural roofing
Papan semen asbes berat yang secara langsung ditopang oleh kerangka atap, yang membentuk geladak atap dan membersihkan permukaan atap selama pemakaian.


Atak
Susunan sesuatu berdasrkan rencana gambaran atau bentuk sesuatu , misalnya atak sebuah pabrik surat kabar atau halaman majalah


< B >

Back
 Tampak belakang,
 Penopang untuk elemen penting dan tampak pada bagian belakang dari tembok adalah bagian muka yang diplaster sisi atas dari tegel atau yang sejenisnya yang berlawana dengan landasannya,
 Bagian atas dari lengkungan busur, yang sering dipendam disekitar bangunan
 Lapisan kayu halus yang digunakan untuk lapisan belakang pada konstruksi kayu lapis,
 Penyekat di bawah kerangka jendela kaca.

Backplate
Plat yang biasanya logam taua kayu yang berguna sebagai landasan untuk struktur.

Backplate lam holder
Pegangan lampu yang dipasang secara lengkap pada sebuah plat yang dibuat untuk menyekrupkan pada permukaan datar.

Balcony
Balkon

Balcony outlet
Pipa talang vertical dimana air hujan melalui balkon luar : merupakan pasangan yang memberikan jalan masuk drainase air dari balkon.

Balk
Kayu persegi yang digunakan untuk konstruksi.

Baul
 Bangunan
 Tepian rendah yang pada tanah yang menandai suatu garis batas.

Ballast
Batu dudk, kerikil, logam, percikan, dan sebainya yang digunakan sebagai lapisan bawah untuk beton

Balok (hor)
 Sebagai pemengangan yang merupakan media pembagi bebn gaya untuk disalurkan ke kolom selanjutnya ke pondasi.
 Bersama dengan kolom bentuk kekakuan menhan gaya horizontal

Backing board
 Daun pada jendela (penutup jendela) yang melipat ke belakang, daun penutup yang terlihat melipat ke dalam suatu taktik pada suatu bingkai atau jendela.
 Lembaran pada papan gymsum pada langit akustik suspensi dimana ubin akustik dipasang dengan perekat.

Barge couple
 Salah satu dari dua rusuk yang menopang dari segitiga atap
 Salah satu rusuk yang berguna sebagai landasan untuk lisplank.

Bangunan
Suatu wujud dari suatu beban/materil yangtersusun dalam arti kata diwujudkan dan terarah.

Barik
Keadaan atau wajah dari permukaan terlepas dari warna dan raut.




Barium plaster
Plastik gips serbuk campura yang mengandung garam-garam barium, digunakan untuk melapis plster ruang sinar X.

Bar post
Tiang yang dipancang kan di atas tanah untuk menbentuk sisinya di gerbang halaman.


Barrel arch
Lengkungan yang terbentuk dari plat atau blok yang kokoh berlengkung yang merupakan struktur lengkung terpadu.


Barrel ceilling
Langit-langit yang berbentuk setengah selinder.

Barricade
Penghalang-halang sekat.

Bar chair
Alat yang digunakan untuk menopang atau menyangga batang-batang penguat pada posisi yang sesuai sebelum atau selama penempatan beton.



Base anchor
Keping logam yang dikaitkan dengan bagian dasar dari kerangk pintu untuk maksud menguatkan kerangka terhadap lantai.

Base
 Bagian yang terendah dari suatu bagunan, tetapi berbeda dengan pondasi,
 Bagian bawah dan tebal dari suatu tembok
 Bagian dari suatu tiang,
 Pada beton aspal dan semen Portland yang dalam pengerasan jalan merupakan lapisan bawah berupa kerikil-kerikil tempat lapisan adonan yang lain diletakkan.

Base course
 Pondasi atau lapisan adonan meteril horizontal sebagai lapisan bawah pada dinding batu.
 Lapisan materil pilihan berketebalan, berukuran, dibangunpada taran bawah atau landasan bawah dengan maksud untuk mendukung beberapa fungsi seperti bistribusi mutan, memberikan saluran arah, mengurangi pengaruh pembahasan, dan sebagainya,
 Lapisan paling bawah pada konstruksi pengerasan jalan.

Base elbow
Siku pipa besi cor yang memiliki plat dasar atau tepian balok pada bagian atasnya, tempat pipa itu ditopang.

Basement

Ruang bawah tanah pada bangunan bertingkat.

Basement house
Rumah yang memiliki ruang-ruang yang ditempatkan di atas permukaan tanah tetapi berjalan masuk dari luar, adalah permukaan tanah atau lantai atas.

Basement stair
Tangga yang menghubungkan ruang bawah tanah denganruang atasnya.

Basement wall
Tembok pondasi yang menutup suatu daerah yang dipaki di bawah suatu gedung.

Basement window
Jendela di dalam basement

Base plate
 Plat logam yang digunakan mendistribusikan suatu muatan yang tidk sama.
 Plat logam tempat kolom berada.
 Plat logam yang digunakan untuk mesin berat.

Basis service
Jasa-jasa yang digunakan oleh seorang aritek selama lima fase berikut ini selam proses rancang gambar, pengembangan rancangan dokumen-dokumen konstruksi, penawaran dan negosiasi, dan administrasi kontrak.


Budaya
Pikiran, akal budi.

Bukaan
Lubang atu bgian yang terbuka pada dinding.


< C >

Cita
dinding rasa perasaan hati, cipta,cita-cita, gagasan.

Citar
 Rup, gambar, gambaran yang dimiliki sekarang orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk.
 kesan mental bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau, kalimat dan merupakan unsure dasar khas dalam karya prosa atau puisi atau ruang dalam

Chabinet filler
kayu yang menutup ruangan antara cabinet-cabinet dan dinding yang berdekatan.





Chabinet Sraper
Pisau bejayang digunakan untuk memperhalus permukaan kayu setelah kayu itu diratakan, atau untuk memperhalus cat, dsb, dari bagian mukanya.

Caementius
Banguna batu yang digunakan secara tak beraturan dari batu-batuan kasar yang tak dibentuk atau dibuat empat persegi panjang, bangunan tersebut ada pada zaman romawi kuno.

Chairn
Timbunan batu atau tumpukan yang tersusunutnuk prasasti, tugu pringatan, atau monument.

Caisson pile
Tiang pancang cetak ditempat, dibuat dengan memutar tabung ke tanah kemudian menggosongkannya, selanjutnya mengisi dengan adonan pembuat beton

Caking
pada cat merupakan pembentukan massa pigmen padat yang keras yang sulit di encerkan dengan pengadukan tangan.

Calcined
Sejenis mineral kalsium karbonat yang penting pada kapur, kapurr biasanya merupakan bahan mentah yang diganakan dalam pembuatansemen Portland.

Calcium sulfate cemen
Semen calcium sulfat

Calcium Sulfate
Gypsum yang dikalsiumkan paa titik 75,8 dimana air pada kristalisai telah dilepaskan

Calcolun
Bata yang berukuran 21,9 cm panjangnya 17,8 cm lebarnya 6,6 cm

Callote
Kubah

Calyon
Batu api ayg digunakan untuk batu dinding-dindign bangunan gedung, dsb

Camber
Lengkungan yang agak cekung yang dibuat didalam.

Camboge
unit bangunan beton dengan lubang-lubang melintang yang digunakan sebagai ventilasi

Came
Lempengan tipis timah cor, dengan takik atau tampa, yang digunakan pada jendela-jendela yang bias menutup kedalaman keluar

Camelhair Mop
Kuas halus yang digunakan untuk melakukan pengecetan dan pengisisan celah celah sempit.

Camera
Pada titik Arsitektur kuno merupakan atap, langit-langit , atau penutup cekung terowongan.
Camp ceiling
Langit-langit brbentuk tenda bagian dalam.

Cant bopard
Papan miring penopang talang.

Centilever Wall
 Siku menonjol yang digunakan untuk membawa tepi atap gedung.
 Balok yang menonjol yang menjauhi tembok atau kolom penopangnya .
 Tembok beton berotot yang menahan keruntuhan karena pengaruh cantilever footing.

Canton
Sudut gedung yang dihias dengan tata bangunan yang menonjol.

Cantonet
Gegung dengan ornament pada sudut-sudutnya dengan tiang segiempat yang bersandar pada dinding yang menonjol.

Canvas wall
Tembok kanvas

Capital
bagain struktur teratas, biasanya dihiasi pada kolom, tiamng segiempat.

Capreolus
Sandaran tembok pada atap kayu kuno, merupakan palang kait.

Cap serew
Sekrup kepala

Carboization
Reaksi antara karbon dioksida dengan senyawa-senyawa kalsium, terutama pada pasta semen, adonan material, atau beton untuk menghasilkan kalsium karbonat.

Carbon black
Pewarna cat hitam sintesis.

Carcass
 Kerangka bangunan sebelum penambahan .
 Kerangka atau bagian utama struktur yang belum diornamen, kurang dalam tata susunan bangunan, lantai, perlengkapan, dengan kayu, plestering, kisi dalam dan sebagainya.


Carcass flooring
Kerangka kayu yang menopang papan lantai di atas, langit-langit bawah

Carcass rooing
Kerangka kayu yang membentangi gedung dan menopang papan dan penutup lainnya.

Carnavon arch
Tiang penopang atau ditopang korbel.

Carpenter finish
Pekerjaan penyelesaian oleh tukang kayu meliputi pelapisan lantai, konstruksi tangga, pemasangan penerapan pintu dan jendela, bagian carbiner yang terlihat dan bingkai-bingkai dan sebagainya.

Carpet bedding
Tanaman yang tanaman-tanaman tahun/bunga kecil dengan bunga indah yang sela-sela tanaman itu diberi kerikil yang ditata rapi.

Carpet Float
Saput kayu, yang ditutupi dengan sepotong permadani beranyaman yang digunakan untuk menghasilkan tekstur lembut pada lapisan adonan pasir.

Concrete
Beton.

Concrete Block
Blok beton.

Concrete Breaker
Alat pemecah beton dengan kekuatan udara.

Construetion Joint
Sambungan konstruksi.

Contact
Plafon yang dipasang dengan konstruksi.

Ceeling
Datas, tanpa menggunakan kaki-kaki penopang.

Continous Mixer
Adukan adonan yang jalan tanpa henti.

Compicate
Dapat meningkatkan ide yang sulit dalam pengertian.

Compleks/Rumit
Terdiri dari berbagai bagian studi, pengetahuan, pengamanan amat banyak diperlukan untuk pemahaman atau operasinya.

Comprehensif/Menyeluruh
Mencakup persoalan yang dipertimbangkan secara menyeluruh atau hamper menyeluruh/memperhitungkan

segalanya, atau sebetulnya semua pertimbangan yang langsung berhubungan.

< D >

Dalam
 Jauh kedalam, di, pada.
 Adalah praposisi yang berfungsi sebagai penghubung yang menunjukkan suatu benda berada dalam tempat tertentu.

Dampproofing
 Kedap air.
 Penggunaan bahan kedap air pada suatu permukaan tembok, untuk mencegah penetrasi lembab.

Darby
 Gosokan yang digunakan untuk menggosok plaster, ini dibuat dari logam ataupun kayu.
 Pelurus yang digunakan dalam perataan beton dengan gosokan suplemen.

Dash-bondcoat
Lapisan adonan table semen, pasir dan air yang dioleskan pada permukaan dengan kuas untuk memberikan dasar plaster kemudian.

Daubing
Lapisan plaster kasar.

D-crack/D-line crack
 Pada permukaan beton adalah celah kecil berspasi rapat.
 Pada batu alas atau ubin batu jala, adalah celah kecil yang sejajar dengan pinggiran sambungan dan celah-celah dasar.

Dead bolt
Baut mati, baut buntu.

Dead end
Kaitan pada ujung otot beton yang berlawanan.

Deck
 Dengan ujung pengait, lantai gedung atau bangunan.
 Landasan rat terbuka seperti pada atap.
 Bagian muka bangunan tempat sistem penutup dipakai.
 Geladak.

Deliveruhose
Selang pembawa adonan beton.

Delfected tendons
Pada bagian beton adalah otot-ototnya yang dimiliki jalan kurva dengan kesesuaian pada poros gravitasi dari suatu bagian beton.
Deformed bar
Batang penguat baja (besi beton) yang dibuat dengan pembentukan-pembentukan bagian mukanya untuk menghasilkan kaitan dengan beton yang mengitarinya.

Dense concretc
Beton padat.

Dependency
Bangunan gedung pembantu didekat atau berdampingan bangunan utamanya.


Depot
Gedung persediaan.

Depreter
Batu kapur dengan alas batu dibuat dengan menekan kerikil-kerikil didalam plaster lunak.

Detached Dweeling
Permukaan ruang terbuka lengkap.

Detail
 Bagian kecil dari suatu rancangan atau konsep Arsitektur.
 Gambar berskala besar atau bagian dari gambar lain yang menunjukkan secara terperinci rancangan, lokasi, komposisi, dan elemen-elemen dan materi-materi yang ditunjukkan.

Development
 Pembangunan.
 Proyek perumahan berskala besar.

Diagonal
Tata bangunan tembok bata yang ditata sudut menyudut.
Diamond
Atap semen asbes, berbentuk persegi, dengan dua sudut dijepit untuk penggunaan dalam atap sudut menyudut.

Diamonwork
Konstruksi tembok yang bagian-bagian bangunannya dipasang membentuk intan pada permukaan temboknya.

Direct personal Expenmse
Pembiayaan atau pembelanjaan pribadi atau personal langsung pada proses konstruksi.

Dike
Tembok batu kering.

Dipcoat
Lapisan cat atau plastik yang digunakan suatu benda kedalam suatu tangki lapisan, biasa digunakan sebagai lapisan kedap air.

Diaphragm
Plat tegak lurus yang relatif tipis digunakan untuk mengait struktur kerangka logam.



Diatomite
Bahan silikat alami berwarna putih atau abu-abu ringan, diperoleh dengan menambang deposit-deposit dari sisa posil binatang kecil laut, yang digunakan sebagai akstender pada cat.

Deduksi
Menurunkan kesimpulan dengan penalaran menyimpulkan dari pinsip umum.

Dektor
Perlengkapan panggung seperti hiasan tirai dan sebagainya untuk pertunjukan sandiwara, hiasan, latar belakang suatu kegiatan.

Dekorasi
 Hiasan atau gambar hiasan yang sangat bagus yang beraneka ragam untuk menghias rumah atau gedung yang dibangun sebagai tempat pesta, resepsi, rapat besar atau musyawarah.
 Kejadian suatu cerita yang dibangun diatas pentas.

Dekorator
Ini mengalihkan paket atau bingkisan orang yang membuat dekorasI

Design
Suatu sistem yang berlaku untuk segala jenis perancangan dimana titik beratnya adalah melihat suatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri, melainkan

sebagai keseluruhan dimana satu masalah dengan lainnya saling kait mengait.

Design Skematis
Penafsiran suatu kebutuhan proyek pemilik dengan studi dan gambar yang memperlihatkan konsep arsitektural pokok, kebutuhan ruang, dan hubungan sirkulasi utama, skala, permasalahan, penggunaan tapak, umum dan kecukupan anggaran yang disyaratkan.

Deskripsi
Penulis atau cerita tentang sesuatu secara rinci atau jelas.

Deskriptif
 Bersifat menguraikan.
 (Tata bahasa) Bersifat menerangkan suatu kata.


Desain
Arsitektural, structural, mekanikal, elektrikal, lay out, peralatan dan semua pengembang akhir dan menjamin bahwa segala persoalan desain yang penting dan atau masalah-masalah telah dijawab.
Development konstruksi
Setelah penyetujuan desain dan koordinasi sistem yang telah disetujui sebelum menjadi sekumpulan dokumen mendetail, legal, pelelangan yang bertalian dengan industri konstruksi, dokumen ini mengendalikan dan


mengerahkan proses konstruksi dan detail material atau perincian sistem-sistem bangunan.

Dimetrik
Miring dua buah sumbu dengan sudut yang sama.

Dinding
Terhadap bidang gambar, berbentuk solid dengan lobang atau berbentuk rangka, membantu menahan gaya aksial dan punt.

< E >

Elevasi vertical miring
Sejajar dengan satu muka yang vertical.

Efisiensi
Perbandingan keluaran terhadap masukan elemen-elemen dasar suatu sistem.

Early Streght
Kekuatan beton atau bahan bangunan yang berkembang setelah penempatan, biasanya selama 72 jam pertama.

Earth
Pada jaringan listrik, adalah plat logam, pipa air.

Electrode


Jenis konduktor yang lain yang ditanam didalam tanah agar dapat menjamin saluran konduktif yang baik dengan groend.

Eaves
Tepi atas bagian bawah.

Eaves channel
Talang dibagian atas tembok.

Eaves tile Starter tile
Genting pada deretan bawah atap.

Emperical
Didasarkan pada informasi factual, pengamatan.

Empiris
Pengalaman indera secara langsung, berlawanan dengan pengetahuan teori.

Evokatif words
Kata-kata yang memicu pada informasi bermanfaat, dimuati dengan emosi.

< F >

Fabric
Elemen-elemen dasar yang menyusun suatu bangunan, karkas tanpa proses penyelesaian dan hiasan.

Facade
Muka luar dari bangunan yang merupakan bagian depan Arsitektur yang kadang-kadang berbeda dengan muka-muka yang lain dengan penggarapan detail-detail arsitektur atau ornamen.

Face
 Bagian muka yang terlihat pada dinding, unit bangunan batu, atau lembaran material.
 Bagian muka dari suatu unit yang dirancang untuk dilihat.
 Bagian muka papan yang lebar.
 Memasang lapisan muka dari suatu material pada material lain, seperti bagian muka dinding blok beton dengan bata.

Face-bedded
Batu yang dipasang sehingga tampak verikal dan sejajar bagian muka yang terlihat.

Face blok
Unit bahan bangunan beton yang berlapis keramik, glasir, plastic, atau dicat khusus pada bagian mukanya.

Face wall
Dinding yang bagian mukanya dan belakangnya diberi perekat sehingga menghasilkan perataan.

Facemeasure

 Ukuran luas papan, ukuran muka, ukuran bidang.
 Lebar bagian muka kayu.

Face mix
Campuran beton yang digunakan untuk bagian muka luar batu cetak, baik dan tahan lama dengan cetakan beton yang tepat dibelakang dan sangat erat.

Face nailing
Pemakuan yang paku-pakunya diterapkan tegak lurus dengan muka benda.

Face putty
Penambahan pada sisi muka kaca yang terlihat dibingkai jendela.

Faceplate
Plat pengaman seperti pada bagian disekitar lobang kunci yang berbentuk prisai.

Face shell
Dinding samping dari unit bangunan kotak berlobang.

Facet
 Bagian muka poinhenron.
 Bagian datar antara dua daging rusuk kolom.

Face wall
 Dinding penahan.

 Dinding dengan bangunan.

Falsafah
Prinsip-prinsip umum tentang suatu bidang pengetahuan.


Filosofi
Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistomologi.



Falsafah
Teori atau analisis logis tentang prinsip-prinsip yang mendasri pengaturan pemakaian, pengetahuan dan sifat-sifat alam semesta.

< G >

Gable
Bagian segitiga pada dinding samping, dibawah condongan atap.

Gableroof
Atap yang berbentuk segitiga.

Gable shoulder
Bagian bangunan bata atau batu yang menopang kaki, bagian segitiga pada dinding samping.

Goble wall
Dinding ang berbentuk segiempat.

Goble window
Jendela pada dinding segitiga, jendela yang berbentuk segitiga.

Galery apartement house
Rumah apartemen yang memiliki jalan lintas luar yang memberikan jalan masuk bagi masing-masing apartement setiap lantai.

Gallet
Serpihan batu.

Galletting
Penyisipan/pemasukan biji-biji batu ke dalam sambungan-sambungan susunan batu kasar untuk mengurangi adonan yang diperlukan, dengan batu batu biji besar pada posisi atau menambah detail pada penampilan.

Galang
Balok mendatar sebagai penopang utama bagi tegak.

Gelagar
Balok mendatar yang dipasang bersaf dan bertumpu pada dinding untuk menopang papan lantai atau langit-langit.

Geometri
Susunan benda atau begian berdasarkan garis, bidang, raut, dan lain-lain.

Generalisasi
Sebuah pernyataan hokum , prinsip atau proporsi secara umum dari kekhususan.

Getas
Mudah patah atau rapuh.

Goal
Tujuan akhir pterhadap usaha diarahkan tersirat sesuatu yang dicapai hanya dengan usaha yang berkepanjangan.

Goal proyek
Ditentukan oleh lkien bekerja sama dengan arsitek, ini diperoleh dari pertimbangn-pertimbangan fungsi, ekonomi, dan waktu subkategorinya.

< H >

Hacking
 Membuat kasar permukaan dengan memukul pakai alat.
 Meletakkan batu bata sehingga tepi bawahnya terpasang dari permukaan datar pada dinding.
 pada dinding batu, merupakan batu yang menjadi berbeda ukuran.

Hacking knife

Pisau yang duigunbakan unutuk mengelupas dempul lama pada bingkai/rangka sebelum diamplas.

Hacksaw
Gergaji besi.

Hair beater
Alat yang digunakan untuk melepaskan rambut atau serat dari laster, yang terbuat dari dua potongan papan kayu yang dieratkan dengan kawat.


Haired mostar
Bahan bangunan adonan yang bersi rambut atau serat.

Hakikat
 Dasar,
 Intisari,
 Kenyataan sebenarnya.
Heuristic
Berperang untuk membimbing, menemukan pengungkapan bernilai untuk menggiatkan, menemukan riset empiris tapi tak terbukti.

Hypotesis
Anggaran dasar, dugaan sementara sesuatu yang dianggap benar meskipun kebenarannya perlu dibuktikan.

Hypotesis alternatif

Pernyataan sementara tentang hubungan yang berbanding terbalik antara unsure yang digunakan.
Hypotesis argumentatif
Hypotesis yang menyatakan dengan sementara tentang mengapa benda, peristiwa, kenyataan terjadi.

Hypotesis kualitatif
Hypotesis yang menunjukkan hubungan sebab akibat dari aspeksifat hubungan tersebut.


Hypotesis kuantitatif
Hypotesis yang menunjukkan hubungan sebab akibat dengan pengukuran eksak, biasanya dengan penggunaan perhitungan statistic.

Hypotesis nol
Pernyataan sementara tentang hubungan yang sebanding dengan variable yang digunakan.

Hypotesis operasional
Rumusan tentang langkah-langkah yang diambil dalam menanggapi masalah-masalah tersebut.

< I >

Imbrex



 Ubin setengah lingkaran yan disambungkan/dipasangkan pada sambungan-sambungan atap genteng.
 Pola pada suatu permukaan pada ambriornament.

Immersion vibrator
Vibratoer yang dimasukkan ke dalam adonan yang masih segar selama proses agitasi.

Impact noise
Suara yang ditimbulkan oleh benturan suatu struktur, serupa langkah-langkah kaki.

Impending slough
Konsistensi diri beton hampa yang menjumlahkan maksimum air yang dapat digunakan tanpa aliran setelah penetapan.

Impost
Bagian atas dari tiang lengkungan.

Induksi
Menlar dari begian keseluruhan ke yang utama dari individual yang universal.

Inerustation
Pengendapan

Inert base

Bahan dasar cat yang lembam.

In glaze decoration
Dekorasi keramik yang diterapkan di atas permukaan sebelum dibakar pada kaca kemudian dimatangkan dengan kaca.
Inbiting pigment
Pigment atau zat pewarna yang digunakan dengan penambahan pada cat untuk mengecat logam sehingga logam yang dicat tidak mudak terkena korosi, keausan, dan sebagainya.

Initial set
Pemasangan awal.

Inlay
 Potongan berbentuk dari suatu material yang berkaitan dengan yang lainnya sebagai bagian dari ornamentasi muka.
 Ornamentasi keseluruhan

Inner court
Halaman dalam

Inpaint
Memperbaharui bagian-bagian yang rusak pada permukaan-permukaan bercat dengan mengecat ulang.

Inside casing
Bingkai bagian dalam kerangka pintu dan jendela.

Inside glazing
Menggosok hingga halus seperti bagian dalam gedung.

Inside stop
Papan kayu kecil yang dipasang dengan bingkai di sepanjang tepi dalam tiang jendela.

Insoluble residue
Bagian dari material yang tidak larut dalam larutran asam hidroklorida.

Insulating cement
Semen hambatan.

Insulating concrete
Beton hambat panas.

In take belt chores
Tata bangunan tembok menonjol pada daratan dimana temboknya berkurang ketebalannya.

Inter conection
Sambungan fisik atau rangkaian pipa-pipa di antara dua sistem persediaan air gedung yang terpisah dimana air bisa mengalir dari satu sisi sistem ke sistem persediaan air gedung.

Interior design
 Menata ruang yang sesuai nalurinya tanpa memeperhatikan fungsi, kegiatan dan lingkungan di sekitarnya.
 Karya arsitek yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan, bentuk-bentuknya sejalan dengan perkembangan ilme pengetahuan dan teknologi dan dalam proses perancangan selalu dipengruhi oleh unsur-unsur geografi daerah setempat dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang diwujudkan dalam gaya kontemporer.

Indeks
Sebuah matriks atau format segiempat dari kata-kata kunci dan evokatif yang disusun untuk mengekpresikan hubungan lagkah-langkah dari pertimbangan serta lkasifikasi tipikal informasi yang berhubungan langsung.

isometrik
Proyeksi miring ketiga sumbu sudut yang sama terhadap bidang gambar.

< J >

Jelaja
Susunan garis tegak dan datar yang berpotongan dan membentuk sejumlah petak yang seragam.

Jacked pile
Pancang (biasanya bagian pipa-pipa yang terbagi) yang ditancapkan ke dalam tanah sampai pada lapisan penopang.

Jecking device
Alat yang digunakan untuk menekan otot-otot pratekan.

Jeckin dice
Blok-blok pondasi yang digunakan sebagai urugan sementara Selma penempatan.

Jacking plats
Plat baja yang berada di atas pancang selama pendongkrakan, yang digunakan untuk memberikan beban dongkrak pada pancang.

Jacking stress
Tekanan maksimum yang ada selama penekanan otot beton pratekan

Jack plane
Garis pelurus pada penggarapan kayu.

Jelaja
Susunan garis tegak dan datar yang berpotongan dan



< K >

Kaidah
Rumusan dari asas-asas, aturan yang pasti, tteori-teori yang benar sebagai patokan, panutan ketentuan hukum.

Karakteristik pemakai
Kualitas fisik, social, emosional, dan elektual yang mencirikan para pemakai dan mempengaruhi pola-pola tingkah laku mereka.

Karsa
 Nilai kehendak,
 Kekuatan jiwa yang mendorong untuk berkehendak.

Keadaptasian
Tingkat dimana organisasi dapat dan benar-benar tanggap terhadap perubahan internal dan eksternal.

Kebudayaan
Hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.

Kebijakan
Garis haluan, rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan dan kepemimpinan.

Kebijaksanaan
Kepandaian menggunakan akal budi dan pengalaman.

Kedap
Tidak tembus cahaya.

Kepuasan
Ukuran yang serupa untuk menunjukkan tingkat dimana organisasi memenuhi kebutuhan karyawannya.

Kerangka kerja
Kumpulan hubungan-hubungan yang sistematis.

Kesan
Sesuatu yang terlukis dalam ingatan setelah melihat atau mendengar atau merasakan dan menimbulkan perasaan hampa, senang atau bosan.

Kesimpulan
 Pendapat akhir yang berdasarkan uraian sebelumya,
 Ringkasan sebuah uraian,
 Keputusan yang didapat berdasarkan metode berfikir indutif dan deduktif

Kesimpulan disjungtif
Keputusan yang berdasarkan kepada beberapa kemungkinan atas kebenaran pernyataan tetapi hanya satu pernyataan yang benar.

Kesimpulan hypotesis
Kesimpulan yang kebenarannya berdasarkan pada satu kriteria tertentu.


Kesimpulan kategorial
Kesimpulan yang kebenarannya berdasarkan pada satu kriteria apapun.

Kesimpulan partikulir
Kesimpulan yang terbatas hanya untuk bagian lingkungan dari suatu objek.

Kesimpulan tunggal
Keputusan yang nilai kebenarannyahanya tepat satu jenis objek saja.

Kesimpulan universal
Kesimpulan yang lingkup kebenarannya bersifat menyeluruh.

Kiat
Akal, taktik

Konflik fungsional
Jika hasil suatu konflik atau pertentangan antar individu/kelompok terbukti bermanfaat bagi organisasi maka dilihat dari sudut pandang hal ini pada konflik fungsional.

Konflik nonfungsional
Pertentangan yang merintangi prestasi tujuan organisasi.

Kolom

 Mendukung beban vertikal yang menyalurkan ke dalam tanah melalui pondasi
 Menahan beban horizontal akibat gaya lateral dengan membuat kekuatan bersama-sama unsure horizontal.

Konsep
 Ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa atau sesuatu yang konkrit,
 Surat dan sebagainya, perancangan, buram,
 Gambaran mentl suatu objek proses atau apapun yang berada di luar bahasa yang dulu digunakan akal budi untuk memahami masalah.

Konsepsi
Pengertian, pendapat, daya piker, rancangan sesuatu yang telah ada dalam pemikiran.

Konstruksi
Tata letak suatu susunan model/poros cara pembuatan bangunan

Konstruksi bangunan
Bagian dari elemen struktur bangunan yang secara utuh mendukung berfungsinya efektifitas yang terjadi padanya.

< L >

Labeled door

Pintu berlabel.

Labeled frame
Rangka pintu berlabel

Labeled stop
 Batasan atau pada teraan atau batu jajar lengkungan yang bagian-bagian ujungnya dibelokkan jauh dari pintu secar horizontal.
 Bos dekoratif atau batasan batu kerikil, teraan, kisi-kisi, dan sebagainya.

Labor and material paymaet bod
 Surat perjanjian kontraktor, dimana suatu jaminan menanggung pemiknya sehingga kontraktor akan membayar tenaga kerja dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan kontrak.
 Orang yang membuat klaim itu di bawah perjanjian adalah memiliki kontrak langsung dengan kontraktor dan subkontraktor.

Laced kolom
Kolom berenda

Logical/logis
 Berpikir yang harmonis dengan penalaran yang sehat sesuai dengan prinsip-prinsip logika yang diterima,
 Ilmu penalaran secara benar yang berurusan dengan cerita keabsahan dalam berfikir dan pembuktiannya.

< M >

Macadame agregat
Sejenis produk yang dibuat dengan menghancurkan btu atau kerikil dan kemudian menyaringnya sampai ukuran butiran yang sama.

Maceria
Pada konstruksi romawi kuno, merupakan dinding kasar yang tak bermuka, yang dibuat dari berbagai macam material.

Machilation
Struktur bangunan di atas benteng jaman pertengahan dengan bagian yang terbuka dimana minyak yang mendidih, senjata lempar, dan sebagainya dapat dijatuhkan pada penyerang.

Mal
Kepala atau bagian atas sebuah tiang.

Manajemen
Proses untuk menyelesaikan proses pekerjaan melalui orang lain.

Matriks
Acuan, cetakan, sarana, untuk membentuk atau mengembangkan sesuatu.


Metode
 Cara yang teratur dan ilmiah dalam mencapai maksud untuk memperoleh ilmu dan sebagainya,
 Cara kerja yang sistematis untuk mempermudah sesuatu kegiatan dalam mencapai maksudnya.

Metodologi
Pendekatan yang dipakai dalam pemecahan sebuah masalah, cabang logika yang menganalisa prosedur yang membimbing penyelidikan atau mempertanyakan teknik, prosedur yang digunakan dalam bisdang tertentu.

Metode berpikir
alat, teknik, atau cara perpikir.

Metode dedukatif
Cara yang digunakan dalam proses belajar untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari hal yang umum.

Metode penelitian
Metode yang digunakan untuk membuktikan gejala yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Missi
Tujuan akhir dari suatu organisasi atau kegiatan.

Momen
Beban yang terjadi di luar titik berat


Motivasi
Konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekatan yang ada dalam diri seseorang yang memulai dan mengarahkan perilaku.

< N >

Naked flooring
Kayu atau kerangka yang ditumpangi oleh papan lantai.

Naphthenate
Pengering yang digunakan pada cat, yang dibuat dari asam naphthenik dan timah, kobalt, kalsium, atau garam manga.

Natatorium
Kolam renang, gedung yang berisi kolam renang

Neat
Plaster atau semen yang belum tercampur/tanpa dicampur dengan penambahan material kecuali air.
Natural fondation
Pondasi alami

Natural finish tile
Tegel alami

Natural stone
Batu alami

< O >

Objektif
Pengasahan yang lebih mendetail dari sebuah goal khusus. berartti sesuatu yang nyata yang dapat dicapai dengan segera.

Obligue section
Gambar mekanika merupakan bagian yang ditarik dari suatu objek pada suatu sudut dengan poros yang panjang.

Obscure glass
Kaca buram.

Oservation of the work
Salah satu fungsi arsitek dalam fase konstruksi selama kunjungan berkala pada tempat kerja.

Obsidian
Konstruksi, kaca vulkanis alam, biasanya berwarna hitam sedikit mengandung kadar air.

Obtruse angel
Sejenis lengkungan berpucuk, terbentuk oleh lengkungan yang berpotongan dengan ujungnya.

Occupancy permit
Izin penggunaan gedung.


Occupancy rate
Jumlah keseluruhan orang-orang perkamar, unit rumah.

Octastyle
Salah satu tiang lengkung yang menutup ruang persegi empat, dirapati oleh tembok-tembok dengan delapan sel.

Odium
Teater terkecil romawi kuno atau yunani kuno biasanya beratap untuk pertunjukan musik.

Office landscape screen interior
Pemandangan alam di kantor.

Operational reseach
Penerapan metode-metode ilmiah dan umumnya metode matematis pada studi dan analisa masalah-masalah yang rumit.

Organisasi
Menyiapkan untuk kegiatan atau aksi bersama untuk menyusun elemen-elemen menjadi sebuah keseluruhan yang biasanya saling bergantung.

Obyektivitas
Penggunaan fakta tanpa penyelewengan oleh perasaan atau prasangka pribadi.

< P >

Padu
Telah bercampur dan bersatu, kompak.

Parameter
Istilah matematis bagi kuantitas simbolis yang dapat dipertalikan dengan suatu kuantitas yang dapat diukur dalam dunia nyata……seperti biaya/meter persegi.

Peradaban
Kemajuan tingkat kecerdasan atau kebudayaan.

Perancangan
Proses atau cara pembuatan merancang.

Perencanaan
 Planning.
 Kegiatan yang berkesinambungan, sistem dan rasional, berorientasi kemasa depan dalam rangka memecahkan masalah.

Persepsi
Pandangan seseorang atau orang banyak atau hal atau peristiwa yang didapat atau diterima.

Plaza
Kompleks pertokoan atau bangunan, terutama pusat perbelanjaan.

Penelitian
Penyelidikan atau eksperimen yang kritis atau menyeluruh bertujuan untuk menemukan fakta baru dan penafsiran yang benar.

Policy
Sesuatu pergerakan atau metode dan tindakan yang dipilih beberapa alternative pada situasi tertentu untuk memberi pedoman dan menentukan keputusan baik saat sekarang maupun dimasa akan datang.

Pondasi dangkal
Pondasi yang mendukung beban secara langsung tanpa bantuan elemen struktur lainnya.

Pondasi telapak/tapak
Pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom.

Pondasi memanjang
Digunakan untuk mendukung sederetan kolom structural yang berjarak dekat, sehingga dipakai untuk pondasi tapak, maka sisinya berimpit satu sama lain.

Pondasi rakit
disebut pula “raft foundation” atau “mat foundation” yaitu pondasi yang mendukung bagian yang terletak pada tanah lunak atau digunakan bila susunan kolom berjarak dekat disemua arahnya, sehingga nampaknya sebagai pondasi tapak.

Pondasi dalam

Pondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah yang terletak relatif jauh dari permukaan tanah.

Pondasi sumuran
Disebut juga pier foundation yang merupakan bentuk peralihan antara pondasi dangkal dengan pondasi tiang. Digunakan bila tanah keras terletak pada kedalaman yang relatif dalam.

Pondasi tiang
Disebut juga pile foundation digunakan apabila tanah pondasi pada kedalaman normal tidak mendukung beban dan tanah keras terletak pada kedalaman yang jauh (untuk tanah timbunan sangat sesuai pondasi tsb digunakan)

< Q >

Quadra
Bingkai persegi yang membatasi relief.
Landas atau lapik podium.

Quadratura
Pada instruktur turunannya adalah yang disesuaikan pada perspektif yang diperkirakan.

Quadripartite
Dibagi dengan sistem konstruksi yang digunakan yaitu menjadi empat kompartement.

Quadriporticus
Serambi yang hampir persegi panjang dan dikelilingi dengan tiang-tiang kolonade.

Quacking concrete
Sejenis beton berkonsistensi medium yang sesuai untuk konstruksi besar, seperti tembok berat yang lembek menyerupai madu.

Quantity
Analisis dan pendaftaran terperinci semua jenis survey material dan perlengkapan yang perlu untuk proyek konstruksi.

Quarrel
Potongan kecil kaca atau ubin.

Quarry tile
Ubin keramik yang tak mengkilap dengan proses ekstrusi dari tanah liat alami sering digunakan pada lantai pabrik.

Quarts
Jenis mineral silica, keras, yang merupakan bahan dasar kaca kuarsa.

Quartzite
Jenis batu pasir yang berkomposisi dari kuarsa.

Quarzitic

Pasir putih bahan dasar kaca sanston.

Queen anne arc
Lengkungan berpintu rangkap tiga (berlubang rangkap tiga) pada jendela venesia atau viladian, datar diatas turunan sisi sempit yang mengitari lubang tengah besar.

Queen closer
Bata yang dipotong separuh memanjang ini dari ketebalan normal tetapi separuh digunakan untuk melengkapi garis jajaran tembok batu bata ukuran normal

Queen post roof
Atap yang dipotong oleh dua tiang ratu.

Quoin
Pada pertukaran batu, adalah batu atau bata keras yang digunakan untuk memperkuat sudut luar atau tepi tembok tua yang serupa, sering dibedakan dengan tata susun tembok dekoratif dari yang berdekatan, bisa diganti dengan material pembawa beban.

Quoning
Bagian struktur arsitektur yang membuat quoin.

Quonset hut
Struktur pra penegangan/pengolahan yang atapnya berbentuk semi silinder.

< R >

Rasionil
Kekuatan membuat, menyimpulkan, logis dan menarik

Rasional
Kesimpulan yang memungkinkan seorang mengerti dunia sekitarnya dan menghubungkan pengetahuan demikian kepada pencapaian goal.

Reduktionisme

Sebuah prosedur atau teori yang menyederhanakan data atau fenomena yang sulit.

Rencana
Rekaan terhadap sesuatu yang dikerjakan.

Resolusi
Proses penyederhanaan ke dalam bentuk yang lebih sederhana, seni menganalisa atau merubah ide yang rumit menjadi lebih sederhana atau menjadi elemen.

Ruang
- Sela-sela yang berada di antara dua tiang atau lebih
- rongga yang dibatasi oleh atau dikelilingi oleh bidang.
- rongga yang tidak terbatas dan merupakan tempat segala sesuatu yang ada.

< S >
Sasaran
Rencana prestasi yang akan dicapai dalam jangka pendek, biasanya satu tahun.

Sengkuap
Atap tambahan yang menjorok dari sebuah bangunan.

Seni
- Kemahiran menciptakan karya yang berkualitas baik yang dilihat dari segi keindahan, kehalusan, dsb.
- Kemampuan akal dalam menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi.
Simplisme
- Penyederhanaan
- Berlebihan, kecenderungan.
- Memuaskan pada satu aspek tunggal (seperti sebuah masalah)
- Sintesis gabungan, perpaduan, paduan.

System
- Suatu pangkat utama
- Aturan, prinsip, fakta dsb, yang digolongkan atau disusun dalam bentuk teratur untuk mewujudkan rencana yang logis yang berhubungan dengan berbagai bagian yang teratur untuk melakukan sesuatu.

Skala
Perbandingan rasio antara dimensi objek dan dimensi yang mewakilinya.

Skeptisisme
Penundaan keputusan atau penelitian sebelum semua data dianalisa.

Sosial
Berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, berderma, dsb.

Sosiologi
Pengetahuan yang berhubungan dengan sifat dan perkembangan masyarakat.

Struktur bangunan
Rangkaian yang tersusun dari bahan materi bangunan dengan sesuatu sistem tertentu dengan cara yang logis sehingga membentuk wujud yang mempunyai nama dan dimanfaatkan secara optimum.

Struktur rangka
- Suatu bentuk struktur yang terdiri dari unsur vertical (kolom) dan unsur horisontal (balok) yang keseluruhan membentuk suatu persatuan fungsi.
- Komposisi atau kombinasi bagian atau elemen-elemen sehingga membentuk suatu keseluruhan yang saling berlainan.

Suasana
Udara, hawa, keadaan yang ada di lingkungan atau sekitar sesuatu suasana kita.

< T >

Taman
Kebun yang ditanam dengan bunga dsb, untuk suasana indah menyenangkan.

Tata
Aturan, kaidah aturan serta susunan cara menyusun sistem.

Tapak
Lahan yang akan ditempati sebuah bangunan, site.

Teknik
Sistem untuk mengerjakan sesuatu lebih bersifat praktis.

Teori
Penjelasan berdasarkan pengamatan dan penalaran.
Teori keputusan
Mencoba menentukan faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang mengerahkan, mengarahkan, mendukung pada seseorang yang melalui panca indera yang dimiliki.

Tingkap
Jendela di atas atau pada atap untuk memasukkan cahaya.

Trimetrik



Miring semua sumbu sudut yang berbeda-beda terhadap bidang gambar.

< U >

Unbonded posttensioning
Pada beton pra tekan, adalah penekanan yang otot-ototnya tak terkaitkan dengan beton setelah ditekan.

Unbonded tendon
Pada beton pra tekan, adalah otot yang dikaitkan dengan betonnya.

Unbraced length
Jarak antara ujung-ujung bagian struktur (seperti kolom) yang dicegah dari pergeseran dengan sumbunya, dengan pangait, dengan kait, atau lantai.

Uncaursed
Menyebut tata susun bangunan tembok yang laposan-lapisannya tak bersambung, horizontal tersusun tetapi ditata tak beraturan.

Underbad
Bangunan tembok dasar di mana terasa tempatnya.

Ungkapan
Melahirkan perasaan hati melalui...kata, air muka

< V >

Variable
- (harga, mutu, dsb) berubah-ubah, tidak tetap harga yang variable.
- sesuatu yang dapat berubah-ubah.
- faktor yang ikut menentukan perubahan.

Valensi
Kekuatan keinginan seseorang untuk mencapai hasil tertentu.

Variabel bebas
Faktor yang dianggap dapat menentukan faktor yang lain.

Variabel terkait
Gejala yang muncul atau berubah dalam pola yang bisa diamati atau berubah-ubah variabelnya.

< W >

Wagon ceiling
Langit-langit (plafond) yang berbentuk semi silinder.

Wainscot
- Lapisan hiasan atau pelindung yang dipakai dalam bagian bawah pemisah interior tembok.

Panil kayu papan, penyekat yang dipakai pada dinding ruang.

Waist
Ketebalan paling kecil dari balok dari tangga beton.

Wale
Kayu palang yang digunakan untuk menopang bagian penegak, seperti kerangka untuk beton.




Walkup
- Gedung apartemen atau gedung-gedung komersial tanpa elevator.
- apartemen atau kantor di atas lantai masuk ke gedung itu.

Wall arcade
Lengkungan buntu yang digunakan sebagai ornamen pada tembok.

< X >

X-brace
Penopang yang menyilang

Xenode-cheum
Pada arsitektur klasik, adalah ruang atau gedung untuk perjamuan tamu.

< Y >

Yield
- Volume adonan beton yang dihasilkan dari kuantitas material yang diperhitungkan, volume vield.
- Jumlah unit-unit produk, seperti balok yang dibuat per zak semen atau pra cetakan beton.

Yoke
- Bingkai kotak pada pembuatan kolom.
- Papan horizontal yang membentuk kepala bingkai jendela, atap pintu.
- Pada sistem pipa saluran, pasangan dua jalur pipa.




< Z >

Z-bar
Pada langit-langit akustik suspensi, yang membentuk topangan utama.

Zoophorus
Landasan yang menopang gambar-gambar ukir binatang atau manusia.

Zotheca
Ruang kecil yang terpisah dari para tamu, pada arsitektur timur tengah.

LAMPIRAN

PENJELASAN KATA MENGENAI PERTIMBANGAN

AKTIFITAS : Satuan terorganisir untuk menyelenggarakan sebuah fungsi tertentu.

CONSIDERATION/PERTIMBANGAN : berkenaan dengan produk arsitektur yang menunjukkan keempat tipe informasi utama yang diperlukan dalam programing.

CONT ENT/ISI : Bagaimana produk desain akan berlaku untuk menjalankan tugas hanya disyaratkan untuk melakukan prilakunya. “melakukan” cara orang-orang dan benda-benda akan bergerak untuk melakukan tugas-tugas yang harus mereka lakukan.

FUNCTION/FUNGSI : aksi-aksi kegiatan terhadap seseorang atau sebuah benda khusus dicocokkan, digunakan atau bertanggung jawab atau untuknya orang atau benda itu berada.

FORM/BENTUK : dalam desain, bentuk berarti shape (tiga dimensi) dan struktur sebuah bangunan, dibedakan dari bahannya.

ECONOMI/EKONOMI : penggunaan secara efisien dan ekonomis alat yang tersedia untuk tujuan akhir yang

diusulkan. Menyiratkan kepentingan mencapai hasil maksimum dari anggaran permulaan dan keampuhan (efectiveness) biaya maksimum operasi dan life cycle.

TIME : berurusan dengan pengaruh sejarah, kepastian, perubahan dari keadaan sekarang, dan dengan proyeksi-proyeksi ke masa depan.

OPERASIONAL : mengenai goal dan konsep yang berurusan dengan proses bagaimana team arsitek/klien akan bekerja dalam total project delivery system untuk memenuhi kontrak.

PENJELASAN KATA MENGENAI GOAL
GOAL : tujuan akhir terhadap usaha diarahkan. Tersirat suatu yang dicapai hanya dengan usaha berkepanjangan.
Goal dapat diklasifikasikan sebagai :
- goal proyek
- goal operasional
- goal proyek berkenaan dengan produk goal operasional berkenaan dengan proses.

PROJECT GOAL/GOAL PROYEK: ditentukan oleh klien bekerja sama dengan arsitek, ini diperoleh dari pertimbangan-pertimbangan : fungsi, bentuk ekonomi, dan waktu, dan sub kategorinya.



OBJECTIVE/SASARAN : penegasan yang lebih mendetail dari sebuah goal khusus, berarti sesuatu yang nyata dapat dicapai dengan segera.

Goal cenderung menjadi umum ; sasaran cenderung menjadi terperinci atau khusus.

Goal : melayani sebanyak mungkin mahasiswa dari negara bagian texas.

Sasaran : meningkatkan penerimaan sebesr seribu mahasiswa setiap tahun.

POLICY/KEBIJAKAN : arah aksi tertentu yang dipilih dari berbagai alternatif dan dalam kondisi yang diketahui untuk membimbing dan menentukan keputusan-keputusan sekarang dan masa datang.

KONSEP : ide-ide fungsional atau organisasional yang juga melaksanakan goal dan sasaran.
Kebijaksanaan diklarifikasikan di bawah goal atau konsep.

INTENTION/NIAT : ketetapan hati untuk berbuat dalam cara tertentu. Berarti tidak lebih daripada apa yang dijumpai seseorang dalam pikiran untuk melakukan atau dilaksanakan.

DATA : material yang digunakan sebagai landasan untuk penalaran, diskusi, dan keputusan.

RELEVANT / BERHUBUNGAN LANGSUNG : layak diterapkan pada persoalan yang ada. Mempunyai hubungan (logis) dengan persoalan yang sedang dibahas.
PERTINENT / BERHUBUNGAN LANGSUNG : Layak ditukar dengan relevant. Seringkali menekankan hubungan yang lebih penting atau berarti, berguna untuk pengertian atau pemahaman masalah atau persoalan yang ada.

ASSUMPTON / ANGGAPAN : Pernyataan yang diterima atau dianggap benar tanpa bukti atau pembuktian. Dalam programming diklarifikasikan di bawah fakta sebagai fakta kuat yang diasumsikan atau pendapat kuat.

EMPIRICAL / EMPIRIS : Didasarkan pada informasi faktual : pengamatan atau pengalaman indera secara langsung, berlawanan dengan pengetahuan teori itu.

USER CHARACTERISTIC / KARAKTER PEMAKAI : Kualitas fisik, sosial, emosional dan intelektual yang mencirikan para pemakai dan mempengaruhi pola-pola tingkah laku mereka. Karakteristik umum mencakup besaran fisik, umur dan seks, kelas sosial, kesukaan dan bukaan kesukaan, kemampuan intelektual.

PARAMETER : Istilah matematis bagi kuantitas simbolik yang dapat dipertalikan pada suatu kuantitas yang dapat diukur dalam dunia nyata, seperti biaya/meter persegi.



DISINTERESTEDNESS / SIKAP TIDAK MEMIHAK : Objektivitas terhadap penggalian terhadap informasi, penyelidikan cermat tetapi menjaga “jarak”.

OBJECTIVITY / OBJEKTIVITAS : Penggunaan fakta tanpa penyelewengan oleh perasaan atau prasangka pribadi.

SKEPTIVITY / SKEPTIVITAS : Penundaan keputusan atau penilaian sebelum semua data dianalisa.






TEORI ARSITEKTUR

A. PENGERTIAN ARSITEKTUR

Adalah adanya kenyataan bahwa masih banyak pihak yang kurang yakin mengenal istilah arsitektur, maka sebelum sampai pada pembahasan masalah, ada baiknya bila istilah arsitektur itu pada kesempatan ini dijelaskan sekali lagi. Hingga kini terdapat beberapa batasan mengenai arsitektur, tetapi dua batasan yang diuraikan di bawah ini diharapkan dapat menghilangkan keraguan yang ada selama ini.
“Arsitektur” adalah : (1) Seni ilmu bangunan termasuk perencanaan perancangan, konstruksi dan penyelesaian ornamen. (2) Sifat, karakter atau gaya bangunan. (3) Kegiatan konstruksi atau proses membangun bangunan. (4) Bangunan-bangunan. (5) Sekelompok bangunan.
Arsitektur atau seni bangunan adalah membangun bangunan dilihat dari segi keindahan. Membangun bangunan dilihat dari segi konstruksi disebut ilmu bangunan. Keduanya tidak dapat dipisahkan dengan tegas. Biasanya suatu bangunan akan mencakup baik unsur-unsur konstruksi maupun keindahan. Dalam kenyataan atau prakteknya keduanya juga susah dipisahkan dengan tegas sebab pada umumnya konstruksinya mempengaruhi keindahan secara keseluruhan.

Budaya Sebagai Suatu Sistem, Perangkat di dalam Dunia Arsitektur

Arsitektur merupakan produk kebudayaan manusia, dengan kata lain “Form Follow the Culture” :
a. Menurut Wastu Citra (1988. 25) karya karya arsitektur merupakan sesuatu yang kebenaran selalu dinafasi oleh kehidupan manusia.
b. Umat muslim : kehidupannya selalu dinafasi oleh spirit, jiwa norma-norma agama Islam.
c. MenurutW.J.S Poerwordarminto : kebudayaan adalah akal budi pikiran manusia, budaya hasil penciptaan batin dan hasil kegiatan manusia.

B. ARSITEKTUR ISLAM

Berbicara tentang arsitektur Islam, terlebih dahulu kita menengok ke belakang melihat sekilas sejarah tentang perkembangan arsitektur Islam itu sendiri. Islam pertama kali berkembang di Jazirah Arab, tepatnya di tanah Mekkah yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadist setelah beliau wafat ajaran Islam kemu-dian disebarkan oleh sahabat-sahabat Nabi, seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Usman nin Affan dan Abu Bakar Assidiq. Perkembangan Islam begitu pesat hingga meliputi dataran Asia dan Afrika hingga ke Amerika dan Eropa.

GAMBARAN ARSITEKTUR ISLAM
Ekspresi ruang luar style atau gaya penampilan mesjid tidak terkait pada gaya tertentu. Lebih terpengaruh oleh konsep gagasan atau ide dan kondisi konsep alam dan

lingkunan setempat. Pembangunan berdasarkan taqwa dan untuk mempersatukan ummat enam dimensi kelipatan modul jarak dan jumlah staff.
1. Fungsi dan status mesjid :
- fungsi utama sebagai tempat ibadah (shalat) kepada Allah SWT semata dan bukan untuk substansi lain.
- Sebagai pusat kebudayaan Islam bermakna untuk menjiwakan ajaran-ajaran Islam sebagai manifestasi taqwa.
2. Prinsip-prinsip pengungkapan penataan ruang mesjid
- penataan fasilitas sosial budaya di kompleks mesjid sebagai pusat kegiatan Islam diatur berdasarkan kriteria-kriteria dan kaidah-kaidah Islam
- Penataan massa ruang luar, unsur-unsur pementuknya :
a. Zone ruang suci
b. Zone ruang mensucikan
c. Zone ruang muamalah sentral komunikasi dan ruang luas terbuka, alun-alun berfungsi ganda untuk pengembangan jamaah.
- Pola organisasi ruang mesjid.
- Unsur-unsur pembentuknya tergantung dari sifat jenis dimensi, hubungan kegiatan antara lain :
a. fungsi ruang suci (shalat)
b. fungsi ruang suci transisi mensucikan (wudhu)
c. fungsi ruang muamalah (bersosialisasi)
- sistem struktur

Rancangan sistem konstruksi dan pemilihan material yang kokoh diperhitungkan terhadap pengaruh gaya eksternal dan internal berkemampuan mewadahi/menaungi dimensi bentangan ruang efektif dan efisien.

C. ARSITEKTURAL BALI

Bangunan rumah masyarakat Bali mempunyai proses ritual dalam pelaksanaan-nya. Penjajaran yang sama dengan gunung agung merupakan bahan pertimbangan yang penting, kecuali beberapa ketentuan metode pembuatan bangunan dan dimensi / ukuran tiap struktur bangunan dalam kamus arsitektural Bali.

Asta Kosali
Aturan-aturan yang berhubungan dengan aspek ritual pada arsitektur Bali ditulis dalam teks yang disimpan di rumah priset (pendeta). Dokumen-dokumen kuno ini ditulis tangan di atas daun lontar yang disebut dengan Asta Kosali atau Asta Kosalia/. Nama ini kemungkinan diambil dari bahasa sansekerta. Hasta (tangan) dan kansaiya (keahlian).
Asta Kosali ini kemudian dikonsultasikan dan diinterpretasikan ke dalam hal yang berhubungan dengan lingkungan tertentu oleh undagi atau perancang bangunan lokal yang di dalam bidang ritual yang ada hubungannya dengan bangunan.
Tahap aspek konstruksi dan desain termasuk ukuran, dan arah serta posisi bangunan yang saling

berhubungan dengan struktur lainnya dituliskan dengan jelas dalam pedoman pembuatan bangunan Bali yang menggambarkan jenis atau status sosial.

Tubuh Manusia Sebagai Alat Pengukur
Di dalam masyarakat Indonesia, tubuh manusia memberikan suatu model metavorical dalam menggambarkan pembagian luas dalam rumah pada kasus pembuatan rumah tinggal di Bali, ruang suci keluarga diidentifikasikan sebagai kepala, kamar tidur dan paviliun dipakai untuk menerima tamu diidentifikasikan sebagai lengan, halaman tengah dengan lambang pusat atau pusar, hati dengan lambang organ seksual, dapur dan lumbung dilambangkan dengan tungkai kaku dengan lubang sampah di halaman belakang dilambangkan sebagai anus.
Kerangka antrofosentrik ini diperluas sampai ke unit pengukuran yang didasarkan pada dimensi tubuh yang berasal dari ukuran tubuh pemilik rumah. Standar pengukuran ini digunakan untuk menentukan ukuran dan posisi bangunan atau rumah tinggal dan juga untuk menentukan dimensi unsur-unsur struktural seseorang. Tiap pengukuran mempunyai nama dan simbol yang berbeda.
Untuk pengukuran dasar disebut depa asta musti yang merupakan kombinasi jarak antara ujung jari tengah di kedua lengan dalam keadaan lurus mulai dari ibu jari ke ujung jari kelingking lengkat dan besar tangan saat dikepal dengan ibu jari ditempatkan di atas jari telunjuk amsti. Bali juga menggunakan pengukuran dengan menggunakan

kaki, lebar langkah tampak dengan lebarnya tampak ngandang.

Mantra
Asta Kosali menentukan jenis mantra atau jampi-jampi yang harus dilakukan pada tahap-tahap pembuatan konstruksi. Beberapa pergantuan khusus harus diberikan dalam proses pemilihan kayu. Mantra yang panjang ini menggambarkan seluruh jenis pohon yang dapat digunakan dalam suatu konstruksi sambil memohon berkah atau restu dari dewa dan roh-roh dari pohon dan hutan yang ada di bumi dan di langit.
Ada juga mantra untuk memohon berkah dalam menentukan lokasi lahan sebelum memulai pembuatan bangunan. Doa-doa yang dipanjatkan ini merupakan pujian pada dewa-dewa utama Hindu di Bali. Perhatian khusus juga dilakukan untuk memohon berkah air suci yang digunakan untuk menyucikan tempat yang akan digunakan.
Pembacaan mantra biasanya diiringi dengan serangkaian doa untuk menghindarkan diri dari segala bahaya dan kemelaratan yang diakibatkan prosedur yang tidak sesuai aturan.
Hal ini menekankan bahwa bukan hanya konstruksi ataupun upacara ritual saja yang dapat dilakukan dengan efektif oleh orang-orang yang dianggap suci.




Arsitektur dan Status Sosial
Sistem kasta Bali ini berasal dari India kuno tetapi waktu dan keadaan setempat merubahnya menjadi Bali yang mempunyai karakter yang unik. Ada empat bagian dasar pada masyarakat Bali, yaitu : tiga kasta bangsawan yang biasa disebut sebagai triwangsa, dan kasta di bawahnya merupakan kasta orang biasa yang disebut sudra. Triwangsa ini terbagi lagi dalam tiga kasta, yaitu : kasta pangeran atau raja dan para pejuang yang disebut dengan satria, para pendeta yang biasa disebut brahmana, serta para pedagang yang disebut westa. Kedudukan atau derajat ditandai dengan penggunaan gelar dan ada sedikit perbedaan statur pada batas-batas tertentu dalam setiap kasta. Para bangsawan bali dan para anggota lainnya yang berada dalam kasta pangeran / raja seperti asal usul keluarga mereka yang menyusut hingga pada abad ke-14 ketika para kolonial Jawa yang pertama menetapkan bahwa merekalah yang memimpin di Bali menggantikan para penakluk Majapahit dari pulau. Penonjolan keluarga brahmana, di lain pihak menegaskan bahwa keturunan mereka dari Raja Jawa yang terkenal, yaitu Danghyang Hiertha, yang mempunyai tanggung jawab kebangkitan Hindu di Bali pada pertengahan abad ke-16 interaksi sosial ditentukan oleh adat kebiasaan, logat, dan pakaian. Ada 3 bentuk dari bahasa utama daerah Bali, yaitu : halus, madia dan kasar. Bali menggunakan bahasa sesuai dengan hubungan status teman berbicara.



Masalah Proporsi
Ukuran bangunan / tanah yang digunakan sebagai tempat tinggal merupakan faktor yang penting sesuai dengan kasta masing-masing. Masalah ukuran lebih sedikit dari pada masalah proporsi. Sebagai contoh, hanya raja yang bisa membangun sebuah halaman persegi atau halaman yang hampir berbentuk persegi yang mana perbedaan ukuran panjangnya berbeda antara dua sisi yang lebih kecil dari pada satu unit. Kasta pedagang biasa membanguna halaman yang hampir persegi, selama perbedaan panjang sisi-sisinya lebih dari dua, tetapi lebih kecil dari unit villa / rumah kepala kampung. Di lain pihak diperbolehkan adanya perbedaan tiga unit antara dua sisi. Peraturan ini berlaku untuk kategori sosial atua afiliasi kasta.

Dari Pekarangan sampai Puri
Untuk halaman orang-orang yang berkedudukan rendah, dalam hal ini yang merupakan orang-orang miskin, halamannya disebut pekarangan. Struktur terpentingnya termasuk tempat untuk tidur adalah beberapa paviliun untuk kegiatan sehari-hari dan untuk menerima tamu, sebuah dapur, dan tempat penyimpanan beras. Ruangan-ruangan ini diatur mengelilingi sebuah area terpusat yang disebut matar. Sudut yang paling baik dari pagar yang disediakan untuk ...(terpotong karyanya, rachmi)



D. ARSITEKTUR TRADISIONAL BUGIS-MAKASSAR

Komponen Arsitektur Tradisional
1. Fisik Bangunan
a. Bentuk Denah Rumah
Rumah suku Makassar digolongkan menurut lapisan sosial dari penghuninya ada 3 macam rumah yaitu:
1) Balla Lompo, adalah rumah besar yang didiami oleh keluarga raja atau kaum bangsawan. Biasanya mempunyai tangga dengan alas bertingkat dibagian bawah dan dengan atap diatasnya (sapana), mempunyai bubungan (timba’sila/ sambulayang) bersusun 5, 4, 3.
2) Tarata’, adalah rumah dengan bentuk lebih kecil, tanpa sapana dan mempunyai bubungan (timba’sila/ sambulayang) yang bersusun 2.
3) Balla, merupakan rumah buat rakyat pada umumnya, tanpa sapana dan mempunyai bubungan (timba’sila/ sambulayang) bersusun 1.

b. Orientasi Rumah
Kepercayaan etnis Makassar terhadap mitos, mempengaruhi rumah tradisional makassar berdasarkan pada arah angin.

i) Sebelah Timur = menghadap ke arah kehidupan (tallasa)
ii) Sebelah Utara = menghadap ke arah sumber penyakit (garring)
iii) Sebelah Barat = menghadap ke arah kekosongan (lo’bang)
iv) Sebelah Selatan = menghadap ke arah kematian (mate)

c. Perbandingan Kaki Dan Badan Rumah
Perbandingan kaki, dan badan rumah diukur dengan melihat ukuran ketinggian kolong rumah ke lantai panggung dan ketinggian dinding fasad rumah dari lantai ke bagian atas dinding fasad. Ukuran normal/standar permukaan tanah ke lantai adalah 210-225 cm. Ukuran normal/standar ketinggian dinding fasad adalah 200-210 cm.

d. Peil Lantai
Peil lantai panggung diukur dengan melihat perbedaan ketinggian lantai yang ada pada kale bala’ kaitannya dengan strata masyarakat dimana perbedaan lantai jambang dengan lantai utama digunakan untuk golongan karaeng, sementara perbedaan sebagian lantai jambang dengan lantai utama dan permukaan rata antara keseluruhan permukaan lantai diperuntukkan bagi golongan tu maradeka.


e. Perletakan Tangga
Perletakan tangga diukur dengan melihat posisi tangga terhadap arah menyamping atau menusuk badan rumah kaitannya dengan stratifikasi sosial masyarakat. Posisi tangga menusuk badan rumah diperuntukkan bagi golongan karaeng, sedangkan posisi tangga menyamping diperuntukkan bagi golongan tu maradeka.

d. Dimensi dan Perletakan Jendela
Dimensi dan perletakan jendela diukur dengan melihat dimensi jendela pada dinding depan, dinding samping, dan dinding belakang. Dimensi jendela yang berbeda antara dinding depan dengan dinding samping dan belakang merupakan cerminan penghuni dari golongan karaeng, sedangkan dimensi jandela yang rata terhadap seluruh bidang dinding cerminan strata sosial pemilik rumah dari golongan tu maradeka.

e. Bentuk dan Kemiringan Atap
Bentuk dan kemiringan atap diukur dengan melihat kaitannya dengan lebar rumah. Bentuk dan kemiringan atap rumah tradisional suku Makassar lahir dari pandangan kosmologi masyarakat yang menganggap rumah sebagai analogi dari alam yang terbagi 3 yaitu alam atas, alam tengah, alam bawah.


f. Susunan Timba’sila
Susunan timba’sila diukur dengan jumlah susunan timba’sila kaitannya dengan strata sosial penghuni rumah. Timba’sila lima susun untuk istana raja; timba’sila empat susun diperuntukkan bagi golongan bangsawan yang memegang jabatan tinggi di kerajaan dan raja yang tidak memerintah lagi (mantan raja); timba’sila tiga susun diperuntukkan bagi golongan keturunan karaeng; timba’sila dua susun diperuntukkan bagi golongan tu maradeka; timba’sila susun satu susun diperuntukkan bagi golongan masyarakat ata’.

2. Spasial
a. Orientasi Rumah Sesuai Mitologi.
Kepercayaan etnis Makassar terhadap mitos, mempengaruhi rumah tradisional makassar berdasarkan pada arah angin.
1. Sebelah Timur = menghadap ke arah kehidupan (tallasa)
2. Sebelah Utara = menghadap ke arah sumber penyakit (garring)
3. Sebelah Barat = menghadap ke arah kekosongan (lo’bang)
4. Sebelah Selatan = menghadap ke arah kematian (mate)
Kepercayaan lain adalah rumah tidak boleh searah alur sungai karena akan

menghanyutkan penghuni rumah (Pole, dkk, 1988). Namun banyak masyarakat menghadapkan rumahnya ke arah laut, karena masyarakat percaya pada makna laut yang merupakan sumber mata pencaharian pokok.

b. Pembagian Ruang Rumah Tradiasional Suku Makassar
Nilai religius terhadap rumah adalah adanya pandangan bahwa alam raya terdiri atas 3 susun yakni dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Hal ini tercermin dalam bentuk rumah tradisional yang terdiri atas 3 bagian, yaiutu bagian atas yang disebut loteng (pamakkang), bagian tengah yang merupakan badan rumah (kalle balla’) dan bagian bawah rumah yang disebut kolong (sirring).
Pole (1988) mengemukakan bahwa pada tengah bangunan yang disebut kalle balla’ berfungsi sebagai tempat perencanaan dan penyelenggaraan kehidupan sehari-hari
Secara horisontal, pembagian ruang secara makro pada kalle balla’ terdiri atas 2 bagian yaitu bagian luar yang disebut paddeserang ri dallekang, dan bagian dalam/belakang yang disebut paddeserang ri boko.
Jika kalle balla’ tersebut terdiri atas 3 bagian, maka bagian tengah disebut padaserang ri tangnga. Bagian depan dan bagian belakang

dibatasi oleh bagian yang disebut simbang tangnga. Bagian ini privacy, tidak boleh dilewati orang lain kecuali keluarga terdekat, karena bagian tersebut merupakan ruang khusus bagi anak perempuan (gadis) pemilik rumah. Untuk menerima tamu, digunakan bagian depan lantai rumah. Untuk melaksanakan shalat dapat digunakan lantai dimana saja, asal tidak menghadap ke jambang. Kelengkapan rumah tradisional suku Makassar menurut Pole (1988):
1). Jambang; merupakan ruang tambahan yang terletak pada bagian samping rumah yang memanjang menurut badan rumah. Berdasarkan stratifikasi sosial pemilik rumah jambang dibedakan atas 3 yaitu:
a). Jambang a’lanta’ yaitu seluruh lantai jambang tidak rata dengan lantai badan rumah yang diperuntukkan bagi golongan karaeng.
b). Jambang sipolong yaitu sebagian lantainya rata dengan lantai badan rumah yang diperuntukkan bagi golongan tu maradeka golongan tu baji
c). Jambang tulusu’ adalah seluruh lantai jambang rata dengan lantai badan rumah dan diperuntukkan bagi golongan tu maradeka kelompok tu samara.

c.

d. Dego-Dego; bagian tambahan rumah (serambi), terletak pada bagian depan rumah sebelah kiri atau sebelah kanan yang disesuaikan dengan perletakan jambang (pengaruh islam sangat menentukan perletakan dego-dego, paladang, dan jambang). Fungsinya sama dengan paladang.

e. Paladang; serambi yang terletak sepanjang lebar rumah dan terletak di depan rumah, dipergunakan sebagai tempat sandaran tangga.

f. Baringang (anak tangga) dimaksudkan sebagai jalur sirkulasi naik turun rumah dan sebagai tempat untuk duduk/ santai baik sesama penghuni rumah maupun dengan tetangga.
g. Tuka’ (tangga) biasanya diletakkan pada bagian paladenga atau dego-dego ataupun pada bagian belakang rumah (bila mempunyai dua buah tangga).

h. Tamping; yaitu bagian tambahan rumah yang terletak pada bagian belakang rumah dan berhubungan dengan jambang. Tamping biasanya difungsikan sebagai ruang makan, dapur, atau ruangtidur alternatif.

i. Pocci balla’; merupakan tiang paling penting dalam sbuah rumah, sehingga dalam memilih kayu yang akan digunakan harus hati-hati, tidak boleh

ada pasu (bekas cabang) dan biasanya kayu yang buahnya manis seperti pohon nangka atau pohon durian.

E. ARSITEKTUR JAWA

TINJAUAN FILOSOFIS
Dari sudut pandang pengertian Arsitektur menurut persepsi orang barat berbeda dengan hakekat Arsitektur tradisional ;
Pembuatan bangunan yang mengutamakan aspek non fisik, keabsahannya terhadap alam nyata maupun alam yang lebih tinggi, sebagai unsur non fisik diproitaskan antara lain : tradisi tata cara persyaratan dalam membangun agar dapat menjamin keselamatan rohani dan jasmani pemilik daripada pemakainya ada dua aspek non aspek non fisik yang dominan.
- Pertama : aspek arah antara lain kearah utara, kegunung melambangkan sebagai alam atas umumnya formil, tengah alam kehidupan sedangkan kearah selatan bersifat pribadi kearahlaut selatan alam bawah. Arah terbit dan terbenamnya matahari mempunyai arah lebih umum kaitannya dengan dunia bekerja atau memenuhi kepentingan jasmani.
- Kedua : aspek kaitannya dengan tubuh manusia pada tata bangunan jawa, tata ruang, tata kota diatur menurut susunan/ natomi tubuh manusia:
1. kepala : tempat pertemuan dengan pihak luar maupun tempat mengambil keputusan penting.

2. tubuh/badan : tempat atau wadah kehidupan.
3. kelamin : tempat kecil tetapi penting dan dihormati, jaminan kesinambungan.
4. tangan : dibedakan antara yang kanan yaitu kerja jasmaniah (timur) dan kiri yang melambangkan kerja yang lebih mulia tanpa tenaga juga tempat wanita/ anak (barat)
5. kaki : tidak dibedakan antara kanan dan kiri dan hanya melambangkan kegiatan yang kedudukan kurang penting.
Aspek fisik justru mendapat prioritas kedua/trakhir karena merangcang, perangkat gambarnya sudah ada petunjuk baku tertulis maupun tidak tertulis yang pertama kehadiran perancang, empuh pembimbing dalam proses membangun.

TINJAUAN KONSEP FISIK :
Dalam bahasa Jawa kata rumah dapat kita terjemahkan menjadi kata dalem atau omah. Kenyataan kedua kata tersebut mempunyai arti yang lebih luas, antara lain :
1. Omah-omah, gagriya dan dadalem ; pomahan, omah-omahan ; emah-emahan serta ngemah-emahi : masih mempunyai arti yang berkaitan dengan dengan pengertian fisik rumah, sedang:
2. umah ; emah atau imah ; sudah tidak ada hubungannya dengan fisik rumah. Kini kata tersebut berhubungan dengan tahap kehidupan seseorang, yaitu menikah, terbiasa atau ahli.
3. somah, semah, atau susumah ; berarti istri atau ibu rumah tangga dan menikah. Arti terakhir ini seperti

4. kita ketahui bisa dikaitkan dengan kata asomah dan sasomah.
5. dalem ;yang artinya rumah atau saya, dipakai pula untuk arti yang lebih tinggi, yaitu sebutan kepunyaan atau gelar bagi orang yang kedudukan sosialnya tinggi, yaitu kata sampeyan dalem atau panjenengan dalem serta titihan dalem.
Tentang arti kata yang berhubungan dengan kedudukan seseorang ini, disini diuraikan sekedar sebagai petunjuk adanya hubungan antara pengertian rumah dengan keadaan seseorang, seperti pula kata berumah tangga mempunyai arti yang universal dalam hampir semua bahasa daerah di Indonesia. Hal ini tidak akan kita temui dalam pengertian house atau to house misalnya, yang artinya mewadahi.
Dengan uraian singkat diatas, kita dapat mengetahui adanya kaitan yang lebih luas antara pengertian rumah dengan konsep Jawa, baik dalam perlambang rumah terhadap tubuh manusia, maupun arti rumah dalam kaitannya dengan kedudukan maupun tahapan proses mempertahankan eksistensinya melalui perkawinan atau beristri.
Sedang bentuk bangunannya pada dasarnya mengikuti bangunan Jawa yaitu bentuk Joglo untuk pendopo. Limasan soko 8 untuk dalem dan Dorogepak untuk dapur/gandok. Skala bentuk bangunan bila dibandingkan dengan yang terdapat di Jawa Tengah, didaerah Madiun sekitarnya dan Jawa Timur pada


umumnya, mempunyai skala bentuk bangunan yang lebih datar dan ringkas/kecil.


F. ARSITEKTUR TORAJA

Tinjauan Filosopis
- Arsitektur vernacular Tana Toraja/Banua Toraja : yakni arsitektur tradisional : yang perwujudan pembangunannya mengutamakan prinsip keseimbangan, dan dari dua aspek yakni :
Pertama ; aspek non fisik, keabsahan terhadap alam nyata dan alam lebih tinggi sebagaimana diungkapkan bahwa micro kosmic merupakan gambaran yang mewakili makro kosmos. Aspek non fisik ini diutamakan dalam tradisi tata cara persyaratan membangun agar terjamin keselamatan rohani dan jasmani pemilik dan para pemakainya.
kedua ; aspek fisik, merupakan produk akhir, yakni fisik bangunan, karena tradisi kebiasaan merancang perangkat gambarnya sudah ada petunjuk baku tertulis maupun tak tertulis yang penting kehadiran langsung si perancang pakar, Pandeta Banua membimbing langsung dalam proses membangun.
- Ada dua aspek yang dominan dalam arti non fisik : tata bangunan tradisional/Banua Toraja menggunakan prinsip kombinasi dalam keseimbangan. Pertama, pembagian secara vertical tiga symbol alam. Kedua,
-

- pembagian secara horizontal dua symbol alam kehidupan.
Pertama ; pembagian tiga symbol secara vertical :
a. Symbol alam atas ( Indo Puang/Counternance of the Gods) terwujud sebagai Sorindong Para atap bangunan.
b. Simbol alam tengah : timur, terbitnya matahari dunia kehiduapan, terwujud lantai/badan bangunan tempat kegiatan sehari-hari.
c. Simbol alam bawah : Pong talak padang, menunjang bumi keatas, terwujud pada tiang-tiang kolom, bawah lantai.
Kedua ; alam kosmos menghubungkan dua bagian dunia yang terbagi dua secara horizontal dengan prinsip keseimbangan ekosistem terjamin pada tata dan unsur lingkungan.
Pada permukiman Tongkonan sebagai tempat permikiman dan Sungai Saddang sebagai sumber air untuk sawah penghasil beras merupakan sumber pangan untuk kehidupan. Selanjutnya ada Tongkonan ada Lumbung, ada pria ada wanita. Pada unit bangunan ada Longa dikiri seimbang denga Longa dikanan atau muka dan belakang.

Landasan Pemikiran
Pada dasarnya manusia hidup berkembang membangun kehidupannya melalui pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan. Semakin tinggi budaya manusia semakin banyak jenis, keunikan serta semakin rumit

ukuran kualitas kebutuhannya (dibandingkan dengan teori Moskow).
Kehadiran para pakar, pendeta banua sebagai salah satu wahana yang menjembatani kebutuhan dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat dari karya produk ditinjau dari aspek seni bangunan keindahan, kehalusan, keunikan dapat diukur betapa tinggi nilai budaya yang mereka miliki dan terus berkembang dari zaman ke zaman.

4.. Arsitektur Makassar, Bugis, Mandar
Bentuk Bangunan Gowa
Dalam penerapan unsur-unsur bentuk kedalam pembangunan rumah sekarang sebaiknya bentu tradisionil ini dipelihara dan dikembangkan terus. Alasan utama ialah bahwa bentuk ini merupakan ciri khas sebagai salah satu tanda pengenal dan bentuk ini mempunyai suatu kesatuan yang kuat dengan konstruksi dan material yang dipaai.
Untuk perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, konstruksi dan material tidak akan membawa pengaruh besar terhadap bentuk tradisionil ini.
Pengaruh adapt yang ada tidaklah merupakan penghalang, karena hal-hal tersebut sebenarnya hanya menonjolkan perbedaan-perbedaan hiasan/variasi pada bentuknya. Beberapa sketsa menunjukkan bentuk bangunan dan kemungkinan masa perbaikannya. (lihat gambar No. 4,5)


Material bangunan dan konstruksinya.
Seperti telah dikemukakan dalam laporan pertama bahwa material bangunan merupakan material-material local antara lain : kayu, bambu, alang-alang, batu dan sebagainya. Sistem konstruksi yang dipergunakan dapat dijamin kekuatannya ditinjau dari sudut mekanika. Hanya saja pemakaiannya kurang baik, dapat mengakibatkan menurunnya mutu kekuatan secara teoritis sebab dalam pelaksanaan konstruksi tidak didasarkan pada perhitungan-perhitungan konstruksi melainkan berdasarkan intuisi-intuisi dan pengalaman turun temurun.

Landasan kaki tiang (pondasi).
Rata-rata rumah tradisionil inididirikan dengan tiang kayu/bambu. Dan tiang-tiang ini diletakkan di atas suatu landasan (fondasi). Maksud daripada landasan ini ialah untuk menjaga bahagian atas bangunan (bahan-bahan kayu/bambu) dari pengaruh gangguan air tanah atau rayap dan sebagainya. Sekalipun hampir semua rumah tradisionil yang masih sisa masih memakai konstruksi seperti dia atas, namun masih kedapatan adanya tiang-tiang baik bambu atau kayu yang tidak di tempatkan di atas landasan melainkan di tanam di dalam tanah. Melihat kedua hal ini sistim yang dapat dikembangkan terus ialah cara yang pertama tadi di atas dengan konsekuwensi ialah bahwa harus ada harus ada penjelasan yang baik pada hubungan tiang-tiang dengan balok-balok,

karena hubungan inilah yang akan menentukan kekuatan berdirinya banguan secara keseluruhan. (untuk kejelasan hal-hal ini lihat gambar No 6a.1).

Tangga.
Tangga merupakan sebuah unsur pelengkap sebuah rumah yaitu sebagai jalan masuk ke atas rumah namun letak tangga juga menunjukkan derajat penghuni (menurut klasifikasi adat). Bahan yang digunakan untuk tangga yaitu bambu dan balok-balok kayu. Konstruksi tangga cukup kuat, namun kurang diperhatikan segi-segi kemiringan tangga dan lebih dipentingkan ialah bahwa anak tangga harus ganjil. Peningkatan untuk perbaikan dapat dibuat dengan membuat suatu syarat ukuran yang dapat diterima denagn tidak mengabaikan kebiasaan dan kekuatan material. Kebiasaan untuk membuat tangga curam kebanyakan dengan memakai material bambu. Hal ini logis karena tangga bambu dengan sudut enam besar dapat menahan dengan gaya yang lebih besar dibandingkan dengan tangga bambu dengan sudut curam kecil. Untuk pembuatan tangga yang lebih baik dibutuhkan kayu. Juga letak dan ukuran tangga harus sesuai dengan proporsi rumah. (Untuk penjelasan sekitar tangga lihat gambar No 7 & 8d). Kebiassan dulu yakni menempatkan gentong (tempat air) pada tumpuan tangga di tanah dengan maksud sebagai tempat membersihkan kaki, dalam penerapan selanjutnya gentong ini bisa saja diganti

dengan menyediakan keset untuk membersihkan alas kaki (sandal, sepatu).

Dinding dan lantai.
Bahan utama yang dipakai untuk dinding & lantai adalah papan-papan ataupun bambu. Bila diperhatikan pemasangannya mulai dari hubungannya dengan pallangga ca’di, pallangga, kemudian patto’do’ yang langsung berhubungan dengan tiang, dapatlah diambil suatu perbandingan antara konstruksi balok loteng bangunan sekarang, dengan konstruksi papan lantai dari bangunan tradisionil Gowa ini, ialah sebagai berikut:
Pada konstruksi modern dikenal adanya:
- Anak balok
- Balok induk
Sedangkan pada bangunan tradisionil ini dikenal:
- Pallangga ca’di
- Pallangga
- Patto’do
Untuk persamaannya pallangga ca’di disamakan denagn anak balok, sedangkan pallanga dapat disamakan dengan balok induk. Sedangkan perbedaan dapat dilihat dari susunannya.
Pada rumah Gowa balok-balok terdiri dari 3 susun yaitu, patto’do’, pallangga, kemudian pallangga ca’di sedangkan pada rumah modern hanya kita kenal 2 balok yaitu anak balok dan balok induk.


Jadi dalam konstruksi rumah Gowa ini yang dikenal sebagai rumah panggung dapat kita menemukan beberapa persamaan dalam prinsip bangunan modern sehingga dalam mengadaptasikan unsur tradisional ini ke dalam pembangunan modern tidak terdapat suatu masalah.
Hanya bahwa perlu diadakan peningkatan sesuai dengan perkembangan teknologi modern seperti pemakaian baut-baut sebagai pengganti pasak (pen). Bila dilihat dari segi kekuatan bahan bangunan yang diguanakan logislah bila jara-jarak antara pallangga ca’di terlalu dekat (± sejengkal). Akan tetapi dalam penerapan selanjutnya, maka berdasarkan kekuatan bahan yang dipakai (dengan sendirinya lebih kuat) jarak-jarak ini dirobah sedikit. Dengan demikian ada penghematan.
Dinding-dinding rumah tradisionil yang terdapat pada pinggiran kota kebanyakan dari papan sedangkan lebih keluar lagi kebanyakan memakai dinding dari anyaman bambu (lihat gambar No. 6g).
Melihat sistim pengolahan konstruksi dinding ini sudah cukup baik untuk dipakai khususnya dalam pembangunan perumahan-perumahan rakyat. Pada pemakaian dinding papan sudah dipakai pula konstruksi baru antara lain pemakaian alur dan lidah.

Ventilasi dan penerangan.


Rumah-rumah Makassar (Gowa) rata-rata punya rasa sejuk, karena nagin dapat masuk dengan mudah, baik melalui lubang-lubang pintu, jendela maupun melalui celah-celah dinding bambu/papandan lubang-lubang lain yang ada. ( antara dinding dengan atap, dan sebagainya).
Cahaya masuk ke dalam rumah cukup untuk menerangi bagian-bagian rumah yang vital. Lubang-lubang jendela agak kecil tetapi hal ini disesuaikan dengan besar bangunan (cara tradisi). Untuk perubahan luas jendela dapat diadakan menurut syarat-syarat konstruksi serta fungsi ruangan.

Langit-langit, kap dan atap.
Langit-langit diletakkan di atas padongko dengan deretan bambu atau balok-balok kecil kemudian di atasnya diletakkan papan atau belahan-belahan bambu atau balok-balok kecil kemudian di atasnya diletakkan papan atau belahan-belahan bambu, sehingga dapat dipakai sebagai lumbung tempat padi atau hasil pertanian lainnya, juga tempat menyimpan alat-alat dan sebagainya. (berfungsi sebagai gudang).
Jikalau ditinjau dengan baik, penempatan ini tidaklah tepat karena penghuni rumah dapat terganggu ketentramannya, umpamanya saja dapat gatal-gatal akibat padi yang ada di atas kamar dan juga perletakannya yang mana harus melalui tempat duduk dan kamar tidur. Dilihat dari segi kepercayaan nenek moyang mereka, padi harus di tempatkan di tempat yang lebih tinggi karena padi dianggap sebagai harta yang sangat bernilai tinggi. Dalam penerapan bangunan tradisionil ini hal ini tidak perlu lagi karena kebutuhan-kebutuhan seperti telah disebutkan terlebih dahulu di atas. Untuk hal ini dipikirkan suatu penggantian baru untuk ruangan yang berfungsi sebagai gudang, umpamanya dengan jalan memindahkannya di atas balla pallu. Dengan hal-hal tersebut tadi, langit-langit dapat diatur lebih rapi dan bersih sebagai rumah induk (kalo balla’).
Rangka Kap
Merupakan satu kesatuan yang kokoh. Dari gambar dapat dilihat bahwa tiang-tiang bagian atas dirangkaikan dengan beberapa balok. Jadi sesungguhnya tiang-tiang sudah ikut merupakan suatu rangka kap. Cara meletakkan gording (lilikang) di atas rangka ini adalah sama dengan memasang konstruksi yang lain yaitu dengan pen-pen. Penutup atap diambil dari nipah, memakai rotan sebagai pengikat dan kasau-kasau dari bambu. Kemiringan atap-atap  40 dan bahan-bahan itu praktis mempunyai kekuatan yang terbatas, namun bila

diadakan pemasangan yang seksama dapat dicapai umur 10 tahun untuk atap nipah tersebut.
Pada rumah-rumah dengan rangka kap kayu sudah banyak yang memakai penutup atap dari seng. Hal-hal ini tidak mengubah cara-cara konstruksi ataupun bentuk, tetapi dengan adanya pemakaian atap seng ini diperoleh suatu jangka umur yang lebih panjang, sedangkan pengaruh terhadap hawa di dalam rumah tidak begitu terasa/dapat ditiadakan dengan membuat “cross ventilation”, hal mana dapat diwujudkan dengan mengolah dan mengembangkan fungsi timpa’ladja pada top gevelnya. Dengan demikian dapat terjamin adanya suatu aliran udara yang tetap menjamin kesejukan di dalam bangunan tersebut.

Proporsi Bangunan
Adalah suatu kebiasaan turun-temurun dari suku Makassar dalam menentukan ukuran di mana kepala rumah tangga (pria) merupakan move standard. Mungkin pula akibat kebiasaan tersebut di atas, ukuran tetap yang fleksibel harus diambil ukuran rata-rata pria Makassar. Tetapi akhir-akhir ini dalam perkembangan selanjutnya, baik rumah tradisional yang ada di dalam kota maupun yang terdapat sepanjang pesisir telah menggunakan ukuran rata-rata, tidak lagi berdasarkan move standard, karena bahan-bahan bangunan rumah tradisional dalam perdagangan telah di-“pre-fab”-


kan, misalnya dinding, jendela, tangga, terali, dan sebagainya.
Kaleballa’ (induk bangunan)
Modul : 150 * 300 * 200 t = 200mtr,tinggi langit2 kaleballa`
Module di atas hanya pada bagian kale balla’, volume dan kolom 2 (tiang 2) merupakan ritme berjumlah tetap untuk setiap rumah tinggal, bangunan utilities juga ada tetapi tidak terikat dalam unsur tradisi.
Bagian bawah bangunan (kolong) khusus pada kale balla’ juga bermodule dengan ukuran tersendiri yaitu 150 x 300 x 150.
Melihat modul tersebut, jelas kolong rumah Makassar dapat digunakan dan dikembangkan sesuai dengan peningkatan ruang untuk memenuhi kebutuhan kegiatan-kegiatan hidup setiap penghuninya.



Perubahan modul pada laju jambang (flow) hanya pada ketinggiannya di mana tidak tetap, ini tergantung dari kemiringan atap jambang dan kemampuan pemiliknya untuk memberi plafond khusus pada jambang. Lantai jambang 20 cm lebih rendah dari lantai kale balla’ (160 cm dari permukaan tanah).
Paladang dan balla’ pallu pada umumnya berukuran sama (150 x 150 x 170) m, yaitu 140 cm di atas permukaan tanah. Ada juga beberapa rumah di mana kaleballa’nya lebih luas dari paladang, hal ini mungkin sebagai akibat terasanya desakan kebutuhan dan keaktifan dapur (service), tetapi dalam hal ini tetap berukuran sama.
Seperti dikatakan tadi bahwa kemiringan atap  40, ini dapat dimengerti akibat penggunaan daun-daun nipah sebagai atap, sehingga tinggi makelar berkisar 175 cm lebih.
Menurut garis vertikal body bangunan induk diperhitungkan dengan ketinggian kakinya minimal 555 m, sedangkan panjang induk bangunan (proporsi horisontal) 900 m diperhitungkan dengan ukuran horisontal paladang dan balla’ paluangka horizontal lebih dari 12 m. Jika proporsi diuraikan atas 3 sumbu :
- sumbu x untuk arah lebar
- sumbu y untuk arah tinggal
- sumbu z untuk arah panjang

Karena pada bangunan tradisional Gowa/Makassar hanya berupa rumah tinggal, maka bentuk-bentuk seperti kantor dan semacamnya dibuat dengan konstruksi non-tradisional. Pemakaian bentuk

bangunan ini untuk bangunan selain rumah tinggal besar kemungkinannya, tetapi harus direncanakan lebih dahulu.



Lingkungan Dan Bangunan Tradisionil Bone – Bugis
Alam Dan Iklim
Sulawesi Selatan khususnya daerah Bone mempunyai iklim tropis sehingga memungkinkan penduduknya mencari tempat tinggal dengan ventilasi yang baik
Angin dapat masuk melelui kolong rumah karena angina disini adalah angin darat yang berhembus pada siang dan malam.
Dengan adanya bahan bangunan yang terdapat pada daerah ini yaitu kayu, bambu dan rotan, jika dilihat dari segi kekuatan tidak dapat rapat dengan tanah, sehingga dibuat rumah diatas tiang.
Keadaan hujan yang tebanyak jatuh pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret.
Dengan pemikiran inilah mereka membuat rumah diatas tiang untuk mencegah adanya bahaya tergenang air.

Geografis
Kota Watampone terletak di Daerah Propinsi Sulawesi Selatan dengan bentuknya memanjang kea rah selatan sepanjang ± 4 km serta lebar ± 2,5 km.
Daerah ini dikelilingi sungai yang merangkap pengaliran irigasi untuk persawahan.

Sebenarnya dalam penelitian pembentukan sungai-sungai ini adalah berfungsi sebagai pelindung bahaya serangan dari luar ke dalam kota disamping fungsinya yang tadi.
Daerah lokasi terletak pada bagian barat terdapat sungai Kas yang mengalir dari arah barat ke selatan membelok kea rah timur. Kedudukan daerah ini adalah baik sekali karena bahaya dari banjir tidak akan terjadi mengingat sungai ini dapat menampung air hujan yang turun.

Topografis
Kota ini teletak diatas tanah ketinggian, tapi tidak berarti ketinggian daerah ini sangat menyolok dari permukaan laut. Akan tetapi ketinggian daerah ini tidak memberikan problem dalam penyelesaian drainase.
Menilik dari keadaan tanah dari daerah ini, apabila hujan turun, peresapan tanah cepat terjadi, sehingga pengaliran air tidak terlalu menjadi persoalan, tetapi dalam unsur perkotaan pengaliran air perlu diadakan.
Daerah pinggiran yang datar menjadi pusat mata pencarian penduduk yaitu bertani dengan mendapat sistim pengaliran air hujan sekali setahun disamping irigasi yang ada tetapi belum baik. Ada juga beberapa pengaliran yang dibuat oleh pemerintah dengan sistim irigasi yang sudah mulai tertur, hal ini untuk meningkatkan semangat kerja penduduk. Hal ini juga dapat diartikan agar penduduk yang mempunyai mata pencarian ganda dapat memusatkan pada satu mata pencarian yang tetap.
Dengan hal-hal diatas ini, daerah yang dipilih adalah bagian juga dari hal-hal yang tadi disebutkan. Dan tanah

yang dirempati adalah kelas tanah pertanian dimana perletakan kota serta perluasannya hanya didapat dengan mengambil tanah pertanian tadi.

Demografi
Perkembangan kelahiran penduduk di daerah ini ternyata tidak terlalu besar, jadi planningnya dalam kehidupan sehari-hari dapat dilaksanakan tanpa ada kesulitan. Angka ematian relative kecil, tetapi kesehatan penduduk belum mencapai taraf yang baik.
Umumnya dari golongan tua masih tetap melaksanakan pekerjaan warisan seperti bertani, sedang golongan muda banyak berkecimpung dalam golongan pemerintahan/perdagangan. Taraf pendidikan dari anak-anak mereka sudah cukup maju dalam bidang pengetahuan, dimana kesadaran untuk hal ini sudah dapat dipahami dengan akibat-akibatnya dimasa yang akan dating. Mata pencarian penduduk daerah ini adalah bertani dan nelayan disamping ada juga yang berdagang.
Musim panen adalah setahun sekali, apabila masa panen sudah berlalu mereka ke laut sebagai nelayan atau pergi merantau serta berdagang, kemudian kembali setelah masa bertani tiba. Sedang bagi mereka yang hidupnya hanya dari bertani saja sudah tentu tempat tinggalnya tidak tetap karena tanah yang mereka olah tidak menentu keadaannya, kadang subur/tidak.
Dengan alasan inilah kemudian mereka pindah-pindah tempat dengan cara memindahkan rumah-rumah mereka yaitu membuka satu per satu bagian-bagian rumah

tersebut. Karena konstruksi yang mereka pakai adalah konstruksi yang sangat sederhana, mudah dipakai tanpa mengalami banyak kesulitan serta kerusakan.
Pada umumnya mereka itu berada diluar kota atau pedesaan, dengan demikian maka rumah-rumah tradisioanal masih banyak terdapat didesa-desa, akan tetapi penduduk yang sering pindah dengan keluarga mereka,mengakibatnya terjadinya suatu lingkungan yang baru dilain daerah.
Dengan dipilihnya daerah lokasi ini maka dapatlah dirubah bentuk, dari masa-masa tadi dengan jalan membuat jalur-jalur jalan yang baru dengan tidak menyalahi unsur-unsur tradisi mereka yaitu hubungan masyarakat lingkungan tersebut yang mempunyai adat kebiasan yang sama, yaitu dengan cara membuat pengelompokan masa-masa tadi mengikuti jalur-jalur yang baru.
Dalam perbuatan rumah mereka masih dipengaruhi oleh sifat kebiasan yaitu dengan cara gotong-royong, karena rasa kekeluargaan masih erat pada mereka.

Drainage/Sanitary
Fungsinya dalam lingkungan ialah cara pembuangan kotoran dari rumah-rumah yaitu air terpakai ketempat penghimpunan air dengan melalui saluran-saluran yang tersedia untuk itu.
Pembuangan air tak terpakai yang langsung dari atas rumah ke kolong rumah sering menimbulkan genangan air yang mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit yang tak diingini. Sebaiknya pengaliran air ini dilakukan dengan

adanya jalur jalan yang baik, maka melalui saluran-saluran air pada jalan tersebut tidak mengakibatkan tergenangnya air serta memperlancar jalannya air ketempat pembuangannya.
Dengan memilih lokasi tadi, diaturlah saluran tadi, diaturlah saluran tadi dengan jalur-jalur yang akan diolah yaitu setelah perubahan tata letak bangunan yang dilaksanakan.
Pengaliran air tak terpakai dari lokasi ini baiknya langsung saja ke jalur jalan utama yang mana jalur ini dapat dihubungkan ke pembuangan air tak terpakai yang dalam hal ini adalah sungai.

Keamanan.
Segi-segi yang mempengaruhi keamanan dapat dibagi dalam beberapa hal misalnya :
- gangguan alam
- gangguan binatang
- gangguan kriminil
Untuk gangguan alam, misalnya iklim, hal ini jarang terjadi, hanya untuk menjaga hal tersebut banyak dilakukan perlindungan dalam pembuangan tetap pada prinsip dasar tradisionil mereka.
Gangguan binatang , kurang terjadinya dan dalam pencegahannya mereka tetap melakasanakan perlindungan tersebut.
Gangguan kriminil, hal ini yang banyak terjadi, mengingat perbedaan taraf kehidupan masyarakat didaerah tersebut. Perlindungan untuk unsur ini sangat penting dalam

pembuatan rumah-rumah tradisional, jadi tanpa mengurangi segi-segi tadi, masyarakat tadi membangun satu lingkungan dalam kota.
Pada daerah lokasi pada saat ini gangguan tersebut hampir tidak ada walaupun tidak keseluruhannya lenyap, akan tetapi pencegahan untuk itu tetap dilakukan.
Hubungan antara rumah-rumah nampak ada rasa kekeluargaan, jadi gangguan-gangguan kalau ada biasanya dari luar.
Maka dalam perletakan massa-massa itu mereka memikirkan cara bagaimana yang baik dalam mengatasi persoalan-persoalan tadi.
Akan tetapi hal ini mungkin belum terpikirkan oleh mereka bahwa perletakan massa-massa itu mereka memikirkan cara bagaimana yang baik dalam mengatasi persoalan-persoalan tadi.
Akan tetapi hal ini mungkin belum terpikirkan oleh mereka bahwa perletakkan mass-massa tidak saja ditinjau dari satu segi saja tanpa memikirkan hal-hal lain, melainkan harus pula ditinjau banyak hal, misalnya :
- faktor kesehatan
- faktor estetik
- faktor tradisinya

Traffic ( Jaringan Perhubungan)
Pada zaman penjajahan Belanda ini, jalur-jalur jalan sedikit demi sedikit diperbaiki dan diperbanyak, demikian pula jalur jalan utama ke lain daerah untuk memudahkan


perhubungan antara daerah dengan Pemerintahan pada waktu itu, yang mana berkedudukan di Watampone.
Akibatnya bentuk kota semula yang merupakan bentuk papan catur berubah menjadi bentuk radial yang terbentuk oleh jalur-jalur jalan utama dari luar daerah sehingga terjadi kelompok 2 lingkungan didalam kota.
Dengan adanya jalur-jalur jalan yang menghubungkan pusat kota dengan daerah-daerah lainnya, maka perpindahan penduduk serta perumahannya secara berkelompok dari luar kota sesuai dengan mata pencariannya mereka yang membentuk suatu lingkungan.
Meletakkan traffic didaerah lain ini adalah untuk mendapatkan pengaturan dari massa-massa yang baik yaitu supaya mereka dengan cepat dapat berhubungan satu dengan yang lain, juga dapat mencapai jalan utama tanpa melalui rumah-rumah(kolong-kolong rumah).
Perletakkan rumah-rumah disesuaikan dengan perencanaan traffic yang akan diletakan pada lokasi itu serta tidak menyampingkan unsur-unsur ke tradisionalan mereka.

Bangunan
B.1. Organisasi/fungsi
Ruang-ruang yang ada dalam satu rumah terbagi atas tiga bagian
B.1.a Lego-lego (teras)
B.1.b Watampola (badan rumah)
- Tamping
- Tempat tamu
- Tempat Tidur
- Tempat Kerja
B.1.c Dapureng (dapur)
- Tempat makan

B.a.1. Lego-lego (teras)
Ditempatkan diluar badan rumah bagian depan yang merupakan tempelan dan berfungsi:
- sebagai sandaran tangga
- tempat melepaskan alas kaki sebelum memasuku watampola (badan rumah)
- untuk duduk (relaks)

B.1.b. Watampola (badan rumah)
Watampola suatu ruangan besar yang di dalamnya terbagi atas beberapa fungsi yang secara nyata tidak ada tetapi dengan adat terbagi secara tegas
B.1.b.1 Tamping
Tamping merupakan lalu lintas yang menghubungkan antara lego-lego dan dapureng yang melalui watampola, juga berfungsi sebagai tempat beraktifitas seperti menenun dan aktifitas wanita lainnya.
B.1.b.2 Tempat tamu
Tempat menerima tamu disediakan pada depan watampola setelah lego-lego.
B.1.b.3 Tempat Tidur
Selain tamping dan tempat tamu dalam watampola merupakan tempat tidur keluarga sebab pada umumnya mereka hanya membentangkan tikar saja sebagai alas


untuk tidur. Pemisahan antara tempat tidur orang tua, anak-anak Tetap ada menurut adapt kebiasaan.
Tamu biasanya ditempatkan pada tempat menerima tamu yaitu pada bahagian depan watampola (badan rumah) atau setelah lego-lego (teras). Anak-anak pada bahagian belakang dan orang tua di bahagian tengah watampola (badan rumah).
B. 1. b. 1 Tempat Kerja
Sebenarnya tempat kerja khusus tidak ada tetapi aktivitasnya kerja wanita menurut kebiasaan dilakukan di tamping.
B. c. Dapureng
Sama halnya dengan lego-lego (teras) maka dapureng (dapur) juga merupakan tempelan, hanya tempatnya di bagian belakang watampola (badan rumah) yang selurus dengan lego-lego.
Dapureng (dapur) ini adalah kelengkapan dari kebutuhan suatu rumah yang mana fungsinya sebagai tempat masak dan tempat makan. Pada ruang ini tidak terjadi pemisahan/pembatasan tempat, hanya perletakan unsur-unsur tadi ditentukan dengan kebiasaan mereka, misalnya tempat masak diletakkan pada barisan belakang sekali sedangkan tempat makan ditempatkan pada bahagia tengah dapureng (dapur) ini.
Mangenai WC/KM dapat dikatakan tidak ada sebab dalam suatu lingkungan/kelompok perumahan, hanya terdapat satu unsur saja. Jadi mereka mandi dan mencuci di tempat itu, WCnya tidak ada sama sekali. Jika mereka hendak


membuang air besar ia hanya pergi ke semak-semak saja oleh karena perumahan masih sangat jarang.
Apalagi apabila kampung itu dilalui oleh sungai, logis segala keaktifan yang ada sangkut pautnya dengan air seperti mencuci, mandi dan lain-lain mereka hanya ke sungai saja. Untuk air bersih (minum/masak) mereka hanya menggali sumur kecil di pinggiran sungai yang disebut ‘sate’ .
Tentang tempat penyimpanan barang-barang yang tidak dipakai lagi utamanya sekali padi, di atas watampola terdapat tempat yang disebut ‘rakkeang’. Rakkeang inilah yang berfungsi sebagai gudangnya.

Bentuk
Bentuk asli rumah tradisional bugis dapat kita bagi dalam 3 (tiga) bagian yakni:
B. 2. a. Kaki
B. 2. b. Badan
B. 2. c. Kepala
B. 2. a. Kaki
Yang termasuk bahagian kaki adalah ‘aliri’ (tiang) dan peralatannya (araleng, pattolo) dan tangga. Aliri (tiang) ini dibuat dari bahan-bahan lokal, misalnya kayu. Adapun bentuknya ada yang berbentuk segiempat dan ada yang berbentuk bulat. Perbedaan dari bentuk ini tidak mengandung unsur adat / kepercayaan, hanya berdasarkan pengolahan serta jenis kayu untuk
keperluan tersebut. Aliri (tiang) diberi dasar dari batu gunung yang disebut ‘palangga’.
Jumlah aliri (yiang) dalam satu rumah diikat oleh hukum adat di mana jumlah aliri (tiang) arah memenjang 4 buah dan arah lebar ada yang 3 buah dan ada yang 4 buah.
Adapun ukuran jarak tiang (aliri) pertama dan keempat arah memanjang ditentukan oleh ukuran yang sering dipakai yaitu 5 (lima) angka depa + 1(satu) hasta dengan tangan tergenggam, dalam bahasa bugisnya ‘telunteppa sisikku mabbarekkeng’.
B. 2.b. Badan
Badan rumah terdiri dari dinding dan lantai. Dinding ini dibuat dari bahan lokal juga, misalnya kayu dan bambu. Dinding ini hanya merupakan penutup dari luar saja.
Dinding ini mempunyai jendela-jendela dengan terali-terali yang tegak dan bentuk penampang yang bermacam-macam, misalnya ada yang bulat dan ada yang segiempat dan diberi ukiran yang menarik dan jumlahnya selalu ganjil.
Pada dinding bahagian depan terdapat pintu luar yang menghubungkan antara lego-lego (teras) dengan ruang bahagian dalam. Pintu ini mempunyai ambang yang disebut ‘appang-appang’. Jadi bahagian bawah pintu tidak rata dengan lantai. Appang-appang ini tingginya setinggi lutut, gunanya apabila dalam rumah itu
ada anak-anak kecil maka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi akan terhindar, misalnya anak tersebut tidak dapat keluar melalui pintu di mana anak-anak tadi belum bisa mengetahui bahaya-bahaya seperti terjatuh ke tanah. Bagi mereka yang mempunyai waktu, maka appang-appang ini diberi ukir-ukiran. Lantai demikian juga halnya dibuat dari kayu dan bambu, hanya kalau lantainya kayu maka tunebbanya (anak balok) dibuat juga dari kayu begitu juga halnya dibuat dari bambu makatunebba (anak balok) juga dibuat dari bambu bulat. Lantai dari bambu disebut ‘salima’ (bambu dipotong menurut panjang yang diinginkan, kemudian dibelah-belah setebal 3 cm).
B. 2. c. Kepala (langit-langit dan Kap)
Langit-langit di sini gunanya juga sebagai lantai ‘rakkiang’ (gudang), itulah sebabnya maka lantai langit-langit dibuat sedemikain rupa hingga kuat untuk menahan batang-batang padi yang disimpan di atasnya. Pada langit-langit ada suatu lubang yang berfungsi sebagai pintu rakkiang (gudang).
Untuk mencapai lubang ini dubuatlah tangga khusus yang dapat diangkat-angkat (tangga yang sederhana).
Dasar rakkiang (gudang) yang merupakan langit-langit ini biasanya dibuat dari bambu yang dicincing sehingga menjadi terbelah lebar seperti papan.

Mengingat atapnya yang ringan maka konstruksi kuda-kudanya sangat sederhana pula, sedang bentuk atapnya sendiri sering disebut atap pelana. Kemiringan dari atap ini rata-rata diambil lebih besar dari 30 derajat, mengingat bahan yang mereka gunakan yaitu daun nipa yang mana mudah mengalami kebocoran.
Bahagian depan (topgevel) diberi penutup sesuai dengan bentuk atap, penutup ini disebut timpalaja. Susunan-susunan yang bertingkat sesuai dengan kedudukan penghuninya, misalnya yang punya tingkat lima adalah golongan raja dan sampai ke derajat biasa yang mempunyai tingkat dua atau satu.

Material/Konstruksi
Bahan utama yang dipakai pada umumnya adalah bahan lokal yang banyak di daerah sekitar tempat pembangunan rumah-rumah tadi atau dengan kata lain banyak terdapat pada lingkunga itu sendiri, misalnya :
a. Kayu
b. Bambu
c. Daun-daun
d. Rotan
e. Dan lain-lain.
Pemakaian bahan-bahan ini tidak terikat pada kedudukan masyarakat seperti tingkat bangsawan, rakyat biasa dari seorang yang akan membangun rumah dan adat istiadat dan tergantung dari

kemampuan ekonominya.
Baik buruknya bahan itu ditentukan dengan satu persyaratan yang mereka telah tetapkan, dalam hal ini panre bola, menurut istiadat/kepercayaan mereka.
Memilih kayu untuk bahan-bahan bangunan sedapat mungkin dihindari cacat kayu terutama bagian-bagian dimana akan diadakan sambungan. Yang memungkinkan akan menyebabkan lemahnya konstruksi, yang menurut kepercayaan mereka dengan adanya pasu di daerah sekitar hubungan antara aliri dan pattolo serta arateng, maka kehidupan dari penghuni tersebut akan melarat (tidak sempurna).
Struktur dari rumah tradisional bugis terdiri dari dua bahagian besar :
B.3.a. Struktur utama
B.3.b. Struktur pengisi/pelengkap
Struktur utama merupakan suatu kerangka yang terdiri dari dua unsur, yaitu :
B.3.a.1. Unsur vertikal (aliri)
B.3.a.2. Unsur horizontal (pattolo, arateng)

Unsur vertikal (aliri)
Pada tiap deretan terdiri dari empat buah aliri (tiang) yang pada dua tiang tengah /lebih panjang daripada dua tiang yang dipinggir menurut arah lebar rumah. Ini dimaksudkan untuk mendukung daripada rangka atap. (gambar 11a,b).


Aliri (tiang) ini berfungsi sebagai kaki pada rumah tersebut yang akan mendukung berat/beban seluruh bangunan yakni berat sendiri, beban hidup/mati, dan lain-lain. Dimana berat/beban ini disalurkan vertical menurut gaya tarik bumi ke pallangga untuk diteruskan ke permukaan tanah.
Aliri (tiang) ini juga merupakan tempat mengikat dinding atau dengan kata lain tempat pegangannya dinding.
Unsur horizontal (pattolo, arateng)
Tegak berdirinya aliri (tiang) ditentukan oleh arateng dan pattolo yang fungsinya masing-masing:
- Arateng mengikat aliri (tiang) dalam arah memanjang daripada rumah dan mendukung tunebba (balok anak).
- Pattolo mengikat aliri (tiang) dalam arah lebar rumah kepada kedua unsure horizontal ini berfungsi untuk menyalurkan beban/berat akibat berat sendiri, beban mati/hidup dan beban lain ke aliri(tiang) unsure vertical untuk diteruskan ke tanah bekerja sama dengan unsure-unsur vertical (aliri) membuat suatu kekakuan terhadap gaya-gaya horizontal yakni gempa bumi dan angin.

Kemungkinan perkembangan struktur


Mengingat jarak antara aliri (tiang) agak kecil dimana mempunyai suatu bekas kemampuan yang relative kecil, maka kemampuan untuk memperbesar, dapat dicapai dengan mempergunakan aliri (tiang) tambahan yang diletakkkan antara tiang yang akan mendukung pattolo dan arateng tambahan dengan tidak menyalahi prinsip eppa soppo padongko (gambar 11) atau tellu soppo padongko.

Cara pemasangan struktur utama
Setelah segala bahan-bahan struktur utama selesai diolah oleh “panrebola” (panre=tukang, bola=rumah, jadi panrebola maksudnya tukang rumah), maka oleh yang akan menghuni rumah menentukan “possibola” dengan cara:
Waktu malam mereka datang mendengarkan bunyi cacing karena biasanya cacing pada waktu malam berbunyi di sekitar tanah tempat di mana akan didirikan rumah tersebut. Adapun makna hal ini adalah karena menurut anggapan mereka di mana cacing tersebut berbunyi berarti di sana selalu ada air. Air ini mempunyai symbol sejuk/dingin, dengan demikian penghuni rumah tersebut akan menghuni rumahnya dengan sejuk/dingin, maksudnya selalu tentram. Setelah ada

kepastian bagi mereka maka dibuatlah patok sebagai tanda untuk ditempatkan possibola. Pemasangan pertama adalah pattolo/riswa/mase???? Dimasukkkan ke dalam aliri (tiang) yang telah dilubangi dan ini merupakan arah lebar rumah. Jumlah tiang yang dimasuki pattolo sebanyak empat buah yang jarak aliri (tiang) satu sampai empat disesuaikan dengan ukuran yang telah digariskan oleh adat kebiasaan yakni tiga depa + satu hasta dengan tergenggam (tellunreppa sisikku mabbarekkeng). Kemudian untuk menentukan jarak antara aliri ke aliri arah lebar ini adalah ukuran tersebut tadi dibagi empat. Jadi, jumlah aliri untuk arah lebar rumah dalam satu baris sebanyak empat buah, sedangkan arah memanjang tiga baris yang terdiri dari empat buah aliri tersebut. Dengan demikian untuk mendirikan tiga baris aliri dalam arah lebar ini maka dimasukkkanlah arateng riawa/riase pada lubang yang telah disediakan oleh panrebola yang terletak di atas lubang pattolo yang arahnya menurut arah panjang rumah. Jdi arateng ini merupakan batang arah memanjang yang menahan sehingga ketiga baris aliri arah lebar rumah dapat berdiri. Adapun jarak baris satu sampai dengan tiga di belakang ditentukan pula oleh ukuran adat istiadat yakni: 5 depa +

1 hasta dengan tangan tergenggam (limanteppa sisikku mabarekkeng).
Adapun jarak antara baris aliri arah lebar rumah ke baris aliri yang lain, ukuran tersebut di atas dibagi tiga. Maka dengan demikian berdirilah kerangka rumah yang merupakan struktur utama.

Struktur Pengisi atau Pelangkap
Untuk dapat dikatakan sebagai rumah dari ekrangka (struktur utama) yang terdiri dari aliri (tiang), arateng, dan pattolo ini harus dilengkapi dengan:
B. 3.b.1. Tangga
B.3.b.2. Lantai/loteng
B.3.b.3. Dinding
B.3.b.4. Kap-kap dan lain-lain
Di mana unsure-unsur ini akan dibentuk satu kesatuan dengan struktur utama yang dapat digolongkan sebagai struktur pengisi/pelengkap.
B.3.b.1. Tangga
Dibuat dari bahan kayu atau bamu hanya berdasarkan penggunaannya dengan tidak memperhitungkan segi kesenangan menaiki tangga. Yang paling diperhatikan adalah bahwa jumlah anak tangga harus ganjil dan diatur menurut panjang induk tangga yang dikehendaki, Untuk tangga yang terbuat dari kayu yang agak bengkok yang kemungkinan dimaksudkan untuk

dapat memilkul beban berat yang akan dinaikkan ke rumah dalam hal ini mencegah terjadinya pelandutan (lihat gambar 11 c).
Anak tangga dan induk tangga dihubungkan dengan sistem lubang buntu (lihat gambar 11 d).
Hanya pada anak tangga ketiga dari atas dan bawah dibuat sambungan pen tembus yang diberi pasak pada bahagian luar induk tangga yang merupakan pengikatan secara keseluruhan (lihat gambar 11 e).
B.3.b.2. Lantai/Loteng
Dpat dibuat dari bambu dan kayu. Lantai ini didukung oleh tunebba (balok anak), yang didudukkan di atas rateng dengan jarak masing-masing tunebba rata-rata satu jengkal = 20 cm.
Lantai dari kayu (katabang) dipasang atas tunebba dengan memaku antara papan dengan papan hanya dirapatkan begitu saja satu sama lainnya.
Pada waktu ini mereka belum mengenal sistem lidah dan alur. Lantai dari salima (bambu) da belahan-belahan kecil diikat satu sama lain dengan rotan (ribitta). Lihat gambar 11 f.
Untu lantai atas (loteng) jika dibuat dari bambu, maka bambu tersebut harus dipecah-pecah (ditetta), yang dalam istilah mereka disebut awo tetta (gambar 11 g).
B.3.b.3. Dinding



Dinding dibentuk dari rangka-rangka vertikal dan horizontal menurut panjang/lebar dinding yang dikehendaki menurut pemakaian.
Di mana tiap antara aliri (tiang) disediakan lubang untuk jendela. Rangka dinding kayu ini terdiri dari 2 papan tebal 3 – 4 cm yang diisi dengan panil papan tipis 1 – 2 cm. Jadi rangka-rangka ini juga merupakan bingkai (gambar 11 h). Untuk rangka dinding bambu digunakan bambu bulat untuk rangka vertikal sedangkan untuk horizontal digunakan bambu belah yang berfungsi menjepit daripada isian rangka-rangka dinding (gambar 11 i).
Pada dinding-dinding kayu biasanya jendele-jendela pakai daun untuk menutup sedangkan untuk bambu (dinding) lubang jendela hanya ditutup dengan semacam terali dari bambu bulat yang jumlahnya harus ganjil (lihat gambar 11 j).
B.3.b.4. Konstruksi Kap
Rangka kap dari atap terdiri dari tiang dan balok pendukung, di mana kedudukan balok dan tiang ini saling mengikat satu sama lain.
Pengikat ini terdiri dari beberapa konstruksi hubungan kayu misalnya:
- hubungan pasak
- hubungan lidah dan alur
- hubungan sedut dengan pendengan pembagian tiang dalam 3 bahagian.


Kedudukan balok pengerat (pattolo) berada pada tiang-tiang pendukung yang langsung duduk di atas pondasi batu. Pada bagian tepi dari tiang-tiang pendukung yaitu dalam arah memanjang terdapat balok Blandar/makelaar yang berada sejengkal (± 15 cm) di atas balok pengerat pada arah melebar.
Pada arah sejajar dengan balok pengerat (pattolo) yang terletak di atasnya terdapat balok pengerat kecil, yang gunanya memegang kedudukan tiang kuda-kuda agar tiang tersebut stabil yaitu tegak. Tiang kuda-kuda ini memikul balok nok (passuddu) yang berada di atasnya, di mana balok passuddu ini gunanya tempat perletakan kasau dari rangka atap. Bahan untuk kasau ini adakalanya dari bambu dan adakalanmya dari kayu sesuai dengan kemampuan dari masyarakat yang membangun.
Untuk menguatkan kedudukan dari balok nok tadi dibuat suatu takikan pada tiang kuda-kuda kemuadian diikat dengan rotan agar supaya jarak antara tiap bentangan dari balok nok (passuddu) tetap seperti semula. Untuk kaso (pakke lekke) diletakkan diatas balok pasuddu dan seterusnya kebalok gording sampai kecucuran air.
Perpanjangan balok pengerat (patollo) ini adalah merupakan overstek dimana ujungnya adalah tempat kedudukan balok gording kecil dan kaso hanya diikat saja dengan rottan yang telah

diserat dan merupakan tali yang kuat untuk mengikat. Sedang hubungan untuk patollo kecil dengan gording dibuat hubungan lubang lepas dengan pen dan pada ujungnya diberi penahan agar tidak terlepas. Atap yang dalam hal ini dari daun nipa, cara membuatnya adalah dijajal helai demi helai pada sebatang bambu yang telah dibelah kecil-kecil dan dikukuhkan oleh kulit luar pohon nipah yang berfungsi sebagai pengikat dan caranya mengikat seperti menjahit pakaian. Penyusunan atap ini dilakukan yang tiap pangkal jaraknya 5 cm, yang mana dengan jarak ini air hujan tidak dapat melaluinya/menembusnya. Sementara itu untuk keddukan balok gording sendiri tidak berada pada balok kuda-kuda karena memang pada balok ini tidak terdapt pada konstruksi atap tersebut. Bentangan antara ujung-ujung kaso ini tidak terlalu besar, maka balok gording tadi hanya terdapat satu untuk tiap sisi atap. Penutup lubang yang dibuat oleh sudut atap tadi disebut “timpa ladja” den
gan bentuk-bentuk yang bertingkat, dimana untuk tiap tiap tingkatan menentukan kedudukan sosial dari penghuninya.
Penutup dari bubungan atap ini adalah dari bahan daun nipa yang dibuat lebih rapat serta diikat pada passuddu (balok bubungan/nok). Pengakhiran dari atap tadi yaitu bahagian depan dan belakang diberi lisplang yang sering dihiasi

dengan motif daun-daunan. Ujung-ujung atap ini yaitu yang berlebihan dari kedua tepinya dipotong sama rata, sedang air hujan yang jatuh akan langsung ketanah tanpa melalui talang air.
Mengenai pembabannya :
- beban angin
- bebang bobot sendiri
- beban tak terduga
Diperhitungkan berdasarkan perkiraan dan pengalaman mereka yang dipimpin oleh Panre Bola, jadi mereka melaksanakan tanpa memperhitungkan beban-beban yang terjadi tadi.
Menurut hasil penelitian, kemudian bahaya tersebut adalah kecil mengingat ukuran-ukuran dari balok/tiang yang dipergunakan cukup memenuhi syarat dan sering pada kelewat besar ukurannya untuk pemebebanan itu. Semua beban-beban tadi dipikul oleh patollo (pengerat) dan ataleng yang kemudian disalurkan ketiang pendukung dan diteruskan kebawah melalui pondasi batu dn akhirnya pada tanah.

Arsitektur Mandar
Falsafah Arsitektur Mandar
 Pada arsitektur Mandar, falsafah yang mereka gunakan yaitu bahwa kesempurnaan itu diwujudkan dalam bentuk segi empat, karena menurut mereka alam semesta itu berbentuk



 persegi empat belah ketupat. Dan ini diwujudkan dalam rumah mereka yang bersudut empat.
Konsep analogi rumah
 Menganalogikan bangunan rumah mereka dengan tubuh manusia
• Kaki pada manusia sama dengan tiang (Arriang) pada bangunan (Boyang)
• Badan pada manusia sama dengan badan rumah.
• Kepala pada manusia sama dengan atap pada bangunan
 Menganalogikan ukuran panjang, lebar dan tinggi bangunan rumah mereka dengan ukuran tubuh sipemilik rumah
• Ukuran lebar rumah diambil dari standar kelipatan ukuran Depa pemilik rumah dari pihak laki-laki (suami).
• Ukuran panjang rumah, sama dengan lebar tetapi yang diambil adalah standar ukuran dari pihak laki-laki (suami).
• Tinggi puncak, diambil dari 1/2 lebar padongko ditambah tinggi duduk sampai mata orang laki-laki
• Tinggi dinding sama dengan cara mengukur tinggi kolong tetapi diukur dengan ukuran wanita (isteri)
Pembagian fungsi rumah
 Pada bagian bawah rumah digunakan untuk menyimpan barang-barang kerja

 Pada bagian tengah diperuntukkan untuk penghuni
 Bagian atas untuk menyimpan benda-benda yang dianggap sakral, seperti benda pusaka
 Atapnya berbentuk pelana yang kemudian dikombinasikan dengan model atap yang bersusun.

Peruangan rumah
 Tambing
Pada rumah adat Mandar tambing merupakan area main entrance yang biasanya berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, sesaat sebelum dipersilahkan keruang utama
 Lego – lego
Pada Rumah adat Mandar Lego-lego merupakan Teras Pada bagian depan rumah yang berfungsi sebagai ruang untuk bersantai ataupun beristirahat, lego – lego ini terdapat pada bagian lantai 2 rumah panggung yang akan dicapai setelah menaiki Endeg (Anak tangga).
 Pe’uluang
Pada rumah adat Mandar Pe’uluang merupakan Lantai utama yang tedapat pada bangunan utama dimana bangunan utama merupakan bangunan terdepan dari tiap massa bangunan yang ada dalam Satu kompleks rumah adat. Pe’uluang ini laintainya dibuat lebih tinggi kurang lebih 25 CM dari dasar tambingnya dan posisi Pe’uluang selalu menghadap kebarat.

 Paceko & Passauang
Pada rumah adat Mandar Paceko dan Passauang merupakan ruang yang berfungsi sebagai area dapur, ruang makan, area MCK dan dapat juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan rempah rempah atau hasil pertanian lainnya yang biasa disebut Lumbung serta sebagai sarana penunjang aktifitas dapur. Posisi Peceko dan Passauang ini terletak tepat dibelakang Pe’uluang atau bangunan utama.


METODE PERANCANGAN

A. DASAR-DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Perancangan dalam konteks arsitektur, adalah semata-mata usulan pokok yang mengubah sesuatu yang lebih baik.
Sedangkan dasar-dasar perencanaan adalah membuat sesuatu yang belum ada menjadi nyata. Perancangan dapat dianggap sebagai suatu keadaan masa depan yang dibayangkan. Komponen-komponen ini juga menetapkan fungsi perancang arsitektur mengidentifikasikan metode-metode untuk mencapai pemecahan dan melaksanakan pemecahan ini adalah melakukan pemrograman, membuat rancangan bangunan dan melaksanakan rencana.

B. TEORI PROSES PERANCANGAN
Tujuan proses perancangan adalah untuk mengembangkan suatu hierarki yang layak dari pandangan-pandangan antara persyaratan dan pemecahan fisik.
Beberapa pandangan nilai tambahan dan pendidikan perancangan arsitektur, yaitu :
Arsitek besar seperti Frank Lloyd Wright, Le Corbusier, Mies Van Der Rohe, dll. Yang dikagumi karena sumbangan kreatif mereka. Karya mereka dipandang sebagai hasil jenius pribadi dan peranan sekolah dianggap sebagai ajaran prinsip-prinsip umum dari karya mereka dan penanaman benih-benih jenius yang mungkin terdapat dalam diri tiap mahasiswa. Para mahasiswa, pada gilirannya, diharapkan mencernakan prinsip-prinsip
perancangan ini, mengembangkan kejeniusan mereka dan memberi sumbangan-sumbangan yang memberi bentuk berikutnya pada arsitektur.

C. PROSES PERANCANGAN
Lukisan tentang proses perancangan yang berlangsung dari suatu keadaan awal sampai keadaan masa depan yang dibayangkan tidak sepenuhnya menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam antara dan kegiatan-kegiatan ini dilukiskan.
Dalam bagian-bagian berikut pertama-tama sebagai proses lima langkah, lalu sebagai pengaturan kontrak, dan akhirnya sebagai suatu daftar pertanyaan-pertanyaan untuk para mahasiswa.

LIMA LANGKAH PROGRAMMING
a. Permulaan / tentukan goal
Meliputi pengakuan dan batasan masalah yang akan dibenahi
Hal ini menunjukkan hal-hal yang ingin dicapai klien dan mengapa.
b. Persiapan / kumpulkan fakta
Langkah kedua proses perancangan meliputi pengumpulan data dan analisis informasi mengenai masalah yang akan dibenahi dan digunakan untuk menggambarkan kondisi tapak yang akan ada termasuk aspek fisik, legal, klimat, dan estetik.
c. Pengajuan usul / gali konsep-konsep

Seorang arsitek yang serba tahu siap untuk membuat gagasan untuk mengajukan usul “bangunan”.
Gagasan-gagasan itu datang setiap waktu dalam proses desain dari pertemuan pertama sampai akhir dari seorang klien.
Harus diadakan perbedaan antara konsep-konsep pragmatik dan konsep desain. Konsep pragmatik berhubungan dengan masalah prilaku dan konsep desain berhubungan dengan dengan masalah arsitektur.
d. Evaluasi / pastikan keperluan
Evaluasi usul-usul yang dilakukan oleh arsitek meliputi perbandingan, pemecahan rancangan demikian dengan tujuan-tujuan dan kriteria yang diperkembangkan dalam tahapan program dalam pertimbangan :
- Kebutuhan ruang
- Kualitas konstruksi
- Budget ruang
- Waktu

D. PROSES PERANCANGAN PADA PRAKTEK STANDAR
Proses perancangan pada praktek sandar dapat dibagi dalam lima tahap, yaitu :
a. Perancangn skematis
Tujuannya adalah menetapkankan karakteristik-karakteristik perancangan bangunan seperti skala-skala yang dikehendaki untuk memenuhi persyaratan program
dasar, pemasaran ancang-ancang tempat proyek dan biaya dan taksiran.
b. Pengembangan desain
Tujuannya adalah untuk menguraikan sifat terperinci dan maksud proyek seluruhnya.
Dokumen-dokumen yang dihasilkan termasuk suatu rencana tempat proyek, rencana-rencana lantai, evaluasi dan bagian-bagian dengan catatan yang menguraikan bahan-bahan penting, mengikhtisarkan syarat mekanis dan listrik bangunan serta perincian biaya yang mungkin.
c. Menyiapkan dokumen-dokumen konstruksi
Didasarkan atas gabungan gambar-gambar seperti gambaran kerja dan syarat-syarat tertulis atau spesifikasi. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan dengan jelas dan singkat informasi bahwa kontraktor perlu mengetahui agar dapat mengatur dan membangun proyek tersebut.
d. Penawaran atau perundingan
e. Dengan persetujuan dokumen-dokumen dikeluarkan oleh penawaran atau perundingan
Arsitek mempunyai peranan fasilitator yang memudahkan jalannya perundingan. Arsitek bertanggung jawab atas administratif kontrak antara pemilik dan prosedur yang sangat rumit sampai perancangan tanda dan grafik yang khusus.


Utk pemasangan Paku

Pemasangan Outbow D6”
Batas temperatur Terdeteksi
135 F



DASAR PERTIMBANGAN PENATAAN TAPAK

TUJUAN :
Mewujudkan keserasian dengan pemanfaatan potensi alam secara maksimal dengan tidak merusak lingkungan rona awal
Mewujudkan suasana rekreatif, hiburan, keceriaan, indah, nyaman, hijau, berbunga, berkilau,

KRITERIA DASAR PERTIMBANGAN PENATAAN :
1. Perzoningan perurutan kegiatan sesuai hubungan kelompok massa yang serasi dengan alam lingkungan .
2. Sistem sirkulasi entry pencapaian terarah, merata, berurutan, lancara, dan aman.
3. Penyesuaian dengan karakter lahan dan pemanfaatan potensi-potensi yang ada sesuai rona awal lingkungan.
4. Pemanfaatan arah lintasan matahari secara positif.
5. Pemanfaatan arah angin yang positif pada musim-musim tertentu.
6. Pemanfaatan fakta oceanografis arus ombak sediment pasang surut karang pasir pantai.
7. Pemanfaatan pola tata massa yang sesuai kegiatan dan karakter lahan.
8. Penataan landsekap yang indah, sejuk, hijau, berbunga, berkilau.
9. Pemanfaatan tanaman local pantai yang serasi.




PENUTUP

Disimpulkan bahwa untuk merancang suatu ruang luar dari bangunan atau kelompok bangunan, site maka hal-hal yang perlu diperhatikan dan ditetapkan penanganannya adalah :
1. Lingkup skala besaran order proyek akan dirancang.
2. Pertimbangkan faktor lokasi kondisi alam dan lain - lainnya.
3. Karakter model gaya dan ciri ungkapan runag luar yang ingin kita tampilkan.
4. Unsur kegiatan yang ada, jenis kegiatan, frekuensi hubungan antar kegiatan, bentuk dan pola kegiatan, antara lain perparkiran, lapangan upacara, kelompko massa bangunan atau pertamanan.
5. Unsur flow sirkulasi, jenis sirkulasi, frekuensi dan bentuk pola sirkulasi, antara lain sirkulasi kendaraan roda empat, roda dua atau pejalan kaki.
6. Unsur - unsur tapak, misalnya jenis bahan, dimensi bahan yang digunakan, karakteristik bahan dan sebagainya.
7. Unsur - unsur perlengkapan ruang luar.
8. Pengkondisian ruang luar.
9. Unsur - unsur lansekap yang digunakan.
10. Unsur – unsur perangkat lunak dan kaidah - kaidah estetika pertamanan yang digunakan.
11. Unsur keterkaitan dengan lingkungan setempat.
Khusus untuk perancangan ruang luar bila kita ingin menonjolkan penampilan seni pertamanan maka

dalma perancangan dan pelaksanannya perlu diperhatikan unsur - unsur sebagai berikut:
- Modal gaya pertamanan yang ditanpilkan.
- Dasar – dasar estetika perancangan taman.
- Dasar – dasar pertimbangan untuk memilih unsur tanaman yang diinginkan.
- Dasar – dasar rancangan dan segi – segi pelaksanaanya.




DAFTAR PUSTAKA

- Hakim, Rustam; 1991, Unsur Perancangan Dalam Arsitektur Lansekap, Bumi Aksara : Jakarta.
- Soeseno, Slamet; 1993, Taman Indah Halaman Rumah, PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
- Bruggeman, L. ; 1956, Tuinboek Voor De Tropen, De Spieghel : Amsterdam.
- Clark, D.E. ; 1973, Lawns And Ground Covers, Lane Books, Menlo Park : California.
- Gillespie, J. ; 1975, Garden Pools, Foutains And Waterfalls, Lane Books, Menlo Park : California.
- Mc. Dowell, J. ; 1974, Ideas For Japanese Gardens, Lane Books, Menlo Park : California.
- Visick, J. ; 1970, Planning Town Garden, Design Council : London.
- Yoe, Edy dan Kurnia; 1988, Membuat Kolam Dan Tebing Buatan Dalam Taman, Trubus : 19 : 274.
- Salim, Peter dan Yenny; 1991, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press : Jakarta.


No comments:

Post a Comment