Wednesday, September 02, 2015

Losari, Hi Cantik

Salam, selamat sore belahan Bumi yang lain. Sebelum jauh membicarakan tentang kota, biarlah kita dekat lewat kata. Perkenalkan nama saya, eh anu panggil saja Dayat. Sementara masih sibuk-sibuk berbenah di dunia untuk akhirat.


Oiah, minus sejam lagi menuju garis mati sebelum postingan #30harikotakubercerita ditutup untuk hari ini, sementara saya baru saja memulainya. Tengah duduk saya, menggerilyakan jemari merangkai beberapa kata pengganti kota, pun senja perlahan menemani sebagai penutup malam bagi indonesia bagian tengah.

Baiklah… Kota Daeng, sebutan lain untuk Makassar. Menyinggung tentang ikon, Makassar memiliki sejarah yang cukup panjang mengenai citra kota. Namun di kesempatan ini, tak cukup untuk menggambarkan lika-liku secara lengkap dan lebih detail. Maklumlah masa kecil saya lebih banyak tercatat sebagai penduduk di beberapa daerah sebelum kembali ke kota ini.

Mengikuti perkembangan zaman, beberapa ikonic di Makassar seakan timbul tenggelam seiring dengan pembangunan metro yang kian mendominasi. Pantai Losari salah satunya, Makassar kian berbenah mendandan wajah losari, penulis sendiri menilai hal ini sebagai hal yang wajar jika ditangani dengan benar-benar atas dasar cinta bukan sekadar proyek untuk memenuhi program kerja pemerintah yang tengah berkuasa. Bak simalakama, kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra. Lah, koq malah kebawa bahas politik yah….


Langsung saja, kata kebanyakan pecinta puisi; tempat yang romantis untuk mengutarakan cinta itu di Losari sembari menikmati tenggalamnya sang mentari. Cinta kepada sesama dan kepada pencipta tentunya.


Beberapa spot dibuat untuk mengabadikan gambar, elemen-elemen landscaping bertuliskan suku-suku di makassar dan losari itu sendiri menjadi tempat favorit untuk berselfie ria.

Sembari menunggu malam, semburat senja seakan tak memberi kesempatan untuk memalingkan wajah sedikit pun dari fenomena maha itu. Jangan khawatir tentang urusan perut, ketika malam datang; di sepanjang jalan sudah ramai akan kuliner berbau khas makassar. Paling populer tak lain dan tak bukan adalah Pisang Epe. Berupa cemilan berbahan dasar pisang dengan topping dan aneka rasa yang disediakan.


Masjid terapung yang terdapat di area anjungan losari ini membuat kunjungan teman-teman bernilai religius. Setinggi-tinggi manusia adalah mereka yang jiwanya sering berkunjung ke rumah Tuhan, iya kan.


Kini Losari menjadi tempat sekaligus ruang-ruang terbuka publik bagi siapa saja yang tidak mengenal suku budaya dan apapun yang bersifat separatis. Tempat bersosialisasi dengan pendekatan konsep memangkas jarak, membuat lebih dekat dengan sesama. 

Ditunggu yah!

Time’s Up…. Salam

Sumber Gambar : Pic1, Pic2, Pic3, Pic4, Pic5


No comments:

Post a Comment