OK

Saturday, November 10, 2012

Tangga Lagu


Denger musik? Yess.. nyanyi? noo… edisi tulisan saya kali ini menceritakan sepenggal lirik lagu kala saya dan kalian masih kecil…. Lumayan membekas juga sih liriknya, tak kalah dengan musik jaman sekarang…  wah wah repot juga tadinya harus menggali sisa-sisa ingatan tentang mereka….
Saat ini mereka jarang atau bahkan tidak pernah lagi dilantunkan oleh anak jaman sekarang… hehehe.. mereka lebih memilih ungu dan violet… seven icon dibanding mengetik sms seven wonders… tapi setelah saya perhatiin dengan seksama ternyata memang banyak kekeliruan di dalamnya… hal-hal yang tidak kontekstual lagi rupanya…  inilah sederet pengalaman saya dengan mereka…




Naik-naik ke puncak gunung….Tinggi-tinggi sekali...
kiri Kanan kulihat saja… Banyak pohon cemara…
meski ayah gak pernah mengajak saya ke puncak, bisa dibayangin betapa indahnya di jalan dengan pepohonan sebagai koridornya… tapi sekarang ternyata tidak lagi… bukannya nemuin cemara tapi si kamara yang sedang asyiknya berjualan minuman di pinggir jalan… mijon mijon.. teriaknya menggelegar… hehe.. deretan rumah-rumah atau bedengan sudah menjadi pemandangan yang wajib meski tak benar-benar harus saya lihat… bukannya meminta supaya mereka pindah ( heh emangnya saya siapa yah) tapi tolonglah sampah-sampahnya dibuang pada tempatnya yah… sudah mepet dengan jalan, berserakan pula sampahnya, gak ada hijau, gak ada cemara… jadinya komplit dah… macet datang namanya puncak, emosipun memuncak… hujan tiba banjir pun tak terelakkan…   kasian negeriku… jagalah bumi kita… karena saya menyukai salah seorang di dalamnya...

Lihat kebunku penuh dengan bunga… Ada yang putih, dan ada yang merah …
Setiap hari kusiram semua… Mawar melati, semuanya indah…
Sebagai anak yang terlahir di tahun delapansembilan, tahun dimana awal penggadangan green architecture di kotaku… rumah nenek dulu dan sekarang…. Saya senang rumah nenek yang dulu… di tengah-tengahnya terdapat taman, sebuah kolam berair mancur klasik, berbagai bunga, dan perangkat duduk untuk bersantai… kalo berkunjung, saya rela menghabiskan banyak waktu… ada cerita dan kenangan indah di sana… sejuk dan sangat nyaman… green architecture adalah arsitektur yang ramah… ramah lingkungan dan penggunanya… baik dari ekosistem maupun efisiensi… namun saat itu tak kuartikan sekompleks demikian… kini rumah nenek sudah direnovasi… taman yang dulunya saya idamkan kini tidak lagi… beberapa bidang vertical dan horizontal dipadupadankan membentuk kompleksitas bentuk berfungsi partisi sekaligus atap… air mengalir di dinding pualam dengan bantuan listrik… dua buah spotlight diarahkan berharap memberikan nuanasa alami… sesekali diselipkan jendela kaca polos panjang menghubungkan dapur ke taman itu… bunga-bunganya pun berbeda, beberapa pot bergantung dengan kembang imitasi…   “itulah gaya minimalis, yang keren saat ini !” kata nenek meyakinkanku… tsahh…

Pelangi pelangi alangkah indahmu.. merah kuning hijau di langit yang biru..
Pelukuismu agung…  siapa gerangan …. pelangi pelangi ciptaan Tuhan…
Hujan, saya menyukainya. Seperti kemunculan bianglala melepas hujan. Lagu ini menjadi favorit saya setidaknya sampai saya beranjak tingkat ketiga sekolah dasar. Mata pelajaran spektrum cahaya yang membuyarkan semua khayalan saya tentang pelangi, katanya yang bener warnanya itu ada tujuh tapi yang dicantumkan pada lirik di atas hanya tiga. Sudahlah, sejak peristiwa mencenangkan itu; saya tidak lagi memikirkan macam-macam tentang pelangi; tentang legenda bidadari yang turun dari kayangan atau pun cerita rakyat yang menggambarkan pencurian selendang bidadari di sungai. Asal tahu saja, mana ada bidadari yang mau mandi di sungai.

nina bobo..ooo nina bobo…
kalo tidak bobo digigit nyamuk…
bobolah bobo adikku sayang…
kalo tidak bobo digigit nyamuk…
hai hai… terus terang saya agak parno jika mengingat lagu ini… dulunya pas mendengarnya saya langsung tertidur, bukan karena kantuk tapi karena takut… seribu karakter dan imajinasi tentang nyamuk meyeruak di kepala saya…Hewan dengan gigi setajam drakula, dengan kemampuan super seperti pada film kesatria baja hitam, bisa berubah-ubah layaknya salah satu musuh sailormoon… namanya juga anak-anak, siapa yang mau berhadapan dengan tokoh-tokoh seperti itu apalagi sampai digigit… untunglah saya tak punya adik, saya tak mau dia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika terbangun sendiri dalam tidurnya…   

kukukuruyuk.. begitulah bunyinya..
kakinya bertanduk… hewan apa namanya…
potong-potong roti.. rotinya pakai mentega..
anak yang baik hati pasti disayang mama…
tak perlu berpanjang lebar… saya agak bingung… kukuruyuk…? Saya tau.. itukan suara ayam berkokok versi manusianya… tanduk,,yaya tanduk tapi kok di kaki. Bukannya dimana-mana tanduk itu di kepala. Ada-ada saja.  tapi setelahnya, kenapa bisa ada roti pake mentega… dipotong-potong lagi…. Terus dikait-kaitkan dengan anak yang baik hatinya disayang sama mama…. Nyambungnya dimana yah…… J
meski saya adalah anak yang baik hati… jika dengan sengaja memotong-motong roti siap santap… bukannya disayang, malah ujung-ujungnya dimarahi juga….

bangun tidur kuterus mandi..
tidak lupa menggosok gigi…
abis mandi kutolong ibu..
membersihkan tempat tidurku…
paling doyan denger lagu ini… Meski berisi ajakan berdisiplin ria, saya yakin seyakin-yakinnya tak seorang anak pun yang mampu melakukan sistematika di atas… ni yah misalnya saja saya… waktu masih duduk di sekolah dasar… bangun jam enam pagi… tidak langsung mandi… melainkan tidur lagi menunggu sampai setengah tujuh atau paling tidak omelan mamah sudah terdengar samar dari dapur…  setelah itu saya mandi… kata orang-orang ini kebiasaan buruk saya; selalu tak membawa handuk ketika memasuki kamar mandi… sampai-sampai harus berteriak meminta penutup badan sesudah mandi sekali siram itu… duh, gimana mau bantuin mama membereskan tempat tidur… seragam sekolah sampai buku-buku pelajaran saja masih berharap dari mereka;si orang-orangan rumah…

satu kali satu samadengan satu…
dua dikali Satu samadengan dua…
tiga dikali satu samadengan tiga…
empat dikalikan satu sama dengan empat juga
ayo kawan jangan malas engkau belajar
nanti kamu tidak bisa naik kelas…
pertama dengar lagu ini, saya sangat antusias… saya mulai paham matematika khususnya perkalian… tapi lama berlalu bosan juga rupanya… bagamana tidak?... setelah bertahun-tahun menunggu revisi liriknya masih itu-itu saja… perkalian dua, tiga dan seterusnya mana… duh, makanya jangan heran kalo banyak adik-adik kita yang betah nongkrong dua tiga tahun di kelas yang sama…

dua mata saya… hidung saya satu..
satu mulut saya.. tidak berhenti makan…
dua tangan saya.. yang kiri dan kanan..
dua kaki saya pakai sepatu baru…
nah lirik lagu ini terlalu menghegemoni dalam kehidupan pradewasa anak-anak pada zamannya, entah apa yang menjadi alasan dibalik penciptaan lagu ini. Bagus sih, lebih paham tentang indera kita… tentang Mata, hidung, tapi kenapa juga  dengan mulut yang henti-hentinya mengunyah… pantesan anak-anak itu terkena sindrom gigantisme… belum  lagi pas dinyanyiin di kelas taman kanak-kanak (dua tangan saya… nananana…. Yang kiri dan kanan… dua kaki saya.. pakai sepatu baru) pas liat sepatu di kaki sudah pudar warnanya.. sebelahnya lagi senyum-senyum meminta segera diganti… mama papa pusing deh hampir tiap pulang sekolah merengeknya minta ampun…   

itu aja dulu, tak lupa nitip empat jempol buat beliau-beliau yang sudah membuat banyak karya, tanpanya apalah kita, anak cucu kalian ini… daag…

No comments:

Post a Comment