Denger musik? Yess.. nyanyi? noo… edisi
tulisan saya kali ini menceritakan sepenggal lirik lagu kala saya dan kalian
masih kecil…. Lumayan membekas juga sih liriknya, tak kalah dengan musik jaman
sekarang… wah wah repot juga tadinya
harus menggali sisa-sisa ingatan tentang mereka….
Saat ini mereka jarang atau bahkan tidak
pernah lagi dilantunkan oleh anak jaman sekarang… hehehe.. mereka lebih memilih
ungu dan violet… seven icon dibanding mengetik sms seven wonders… tapi setelah
saya perhatiin dengan seksama ternyata memang banyak kekeliruan di dalamnya… hal-hal
yang tidak kontekstual lagi rupanya… inilah
sederet pengalaman saya dengan mereka…
Naik-naik ke puncak
gunung….Tinggi-tinggi sekali...
kiri Kanan kulihat
saja… Banyak pohon cemara…
meski ayah gak pernah mengajak saya ke puncak, bisa dibayangin betapa
indahnya di jalan dengan pepohonan sebagai koridornya… tapi sekarang ternyata
tidak lagi… bukannya nemuin cemara tapi si kamara yang sedang asyiknya
berjualan minuman di pinggir jalan… mijon mijon.. teriaknya menggelegar… hehe..
deretan rumah-rumah atau bedengan sudah menjadi pemandangan yang wajib meski
tak benar-benar harus saya lihat… bukannya meminta supaya mereka pindah ( heh
emangnya saya siapa yah) tapi tolonglah sampah-sampahnya dibuang pada tempatnya
yah… sudah mepet dengan jalan, berserakan pula sampahnya, gak ada hijau, gak
ada cemara… jadinya komplit dah… macet datang namanya puncak, emosipun
memuncak… hujan tiba banjir pun tak terelakkan… kasian
negeriku… jagalah bumi kita… karena saya menyukai salah seorang di dalamnya...
Lihat kebunku penuh
dengan bunga… Ada yang putih, dan ada yang merah …
Setiap hari kusiram semua… Mawar melati, semuanya indah…
Sebagai anak yang terlahir di tahun delapansembilan, tahun
dimana awal penggadangan green architecture di kotaku… rumah nenek dulu dan
sekarang…. Saya senang rumah nenek yang dulu… di tengah-tengahnya terdapat
taman, sebuah kolam berair mancur klasik, berbagai bunga, dan perangkat duduk
untuk bersantai… kalo berkunjung, saya rela menghabiskan banyak waktu… ada
cerita dan kenangan indah di sana… sejuk dan sangat nyaman… green architecture
adalah arsitektur yang ramah… ramah lingkungan dan penggunanya… baik dari
ekosistem maupun efisiensi… namun saat itu tak kuartikan sekompleks demikian… kini
rumah nenek sudah direnovasi… taman yang dulunya saya idamkan kini tidak lagi… beberapa
bidang vertical dan horizontal dipadupadankan membentuk kompleksitas bentuk
berfungsi partisi sekaligus atap… air mengalir di dinding pualam dengan bantuan
listrik… dua buah spotlight diarahkan berharap memberikan nuanasa alami…
sesekali diselipkan jendela kaca polos panjang menghubungkan dapur ke taman
itu… bunga-bunganya pun berbeda, beberapa pot bergantung dengan kembang
imitasi… “itulah gaya minimalis, yang
keren saat ini !” kata nenek meyakinkanku… tsahh…
Pelangi pelangi
alangkah indahmu.. merah kuning hijau di langit yang biru..
Pelukuismu
agung… siapa gerangan …. pelangi pelangi
ciptaan Tuhan…
Hujan, saya menyukainya. Seperti
kemunculan bianglala melepas hujan. Lagu ini menjadi favorit saya setidaknya
sampai saya beranjak tingkat ketiga sekolah dasar. Mata pelajaran spektrum
cahaya yang membuyarkan semua khayalan saya tentang pelangi, katanya yang bener
warnanya itu ada tujuh tapi yang dicantumkan pada lirik di atas hanya tiga.
Sudahlah, sejak peristiwa mencenangkan itu; saya tidak lagi memikirkan
macam-macam tentang pelangi; tentang legenda bidadari yang turun dari kayangan
atau pun cerita rakyat yang menggambarkan pencurian selendang bidadari di
sungai. Asal tahu saja, mana ada bidadari yang mau mandi di sungai.
nina bobo..ooo nina
bobo…
kalo tidak bobo
digigit nyamuk…
bobolah bobo adikku
sayang…
kalo tidak bobo
digigit nyamuk…
hai hai… terus terang saya agak parno
jika mengingat lagu ini… dulunya pas mendengarnya saya langsung tertidur, bukan
karena kantuk tapi karena takut… seribu karakter dan imajinasi tentang nyamuk
meyeruak di kepala saya…Hewan dengan gigi setajam drakula, dengan kemampuan
super seperti pada film kesatria baja hitam, bisa berubah-ubah layaknya salah
satu musuh sailormoon… namanya juga anak-anak, siapa yang mau berhadapan dengan
tokoh-tokoh seperti itu apalagi sampai digigit… untunglah saya tak punya adik,
saya tak mau dia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika terbangun sendiri
dalam tidurnya…
kukukuruyuk..
begitulah bunyinya..
kakinya bertanduk…
hewan apa namanya…
potong-potong roti..
rotinya pakai mentega..
anak yang baik hati
pasti disayang mama…
tak perlu berpanjang lebar… saya agak
bingung… kukuruyuk…? Saya tau.. itukan suara ayam berkokok versi manusianya…
tanduk,,yaya tanduk tapi kok di kaki. Bukannya dimana-mana tanduk itu di kepala.
Ada-ada saja. tapi setelahnya, kenapa
bisa ada roti pake mentega… dipotong-potong lagi…. Terus dikait-kaitkan dengan
anak yang baik hatinya disayang sama mama…. Nyambungnya dimana yah…… J
meski saya adalah anak yang baik hati…
jika dengan sengaja memotong-motong roti siap santap… bukannya disayang, malah ujung-ujungnya
dimarahi juga….
bangun tidur kuterus
mandi..
tidak lupa menggosok
gigi…
abis mandi kutolong
ibu..
membersihkan tempat
tidurku…
paling doyan denger lagu ini… Meski
berisi ajakan berdisiplin ria, saya yakin seyakin-yakinnya tak seorang anak pun
yang mampu melakukan sistematika di atas… ni yah misalnya saja saya… waktu
masih duduk di sekolah dasar… bangun jam enam pagi… tidak langsung mandi…
melainkan tidur lagi menunggu sampai setengah tujuh atau paling tidak omelan
mamah sudah terdengar samar dari dapur… setelah
itu saya mandi… kata orang-orang ini kebiasaan buruk saya; selalu tak membawa
handuk ketika memasuki kamar mandi… sampai-sampai harus berteriak meminta
penutup badan sesudah mandi sekali siram itu… duh, gimana mau bantuin mama
membereskan tempat tidur… seragam sekolah sampai buku-buku pelajaran saja masih
berharap dari mereka;si orang-orangan rumah…
satu kali satu
samadengan satu…
dua dikali Satu
samadengan dua…
tiga dikali satu
samadengan tiga…
empat dikalikan satu
sama dengan empat juga
ayo kawan jangan
malas engkau belajar
nanti kamu tidak
bisa naik kelas…
pertama dengar lagu ini, saya sangat
antusias… saya mulai paham matematika khususnya perkalian… tapi lama berlalu
bosan juga rupanya… bagamana tidak?... setelah bertahun-tahun menunggu revisi liriknya
masih itu-itu saja… perkalian dua, tiga dan seterusnya mana… duh, makanya
jangan heran kalo banyak adik-adik kita yang betah nongkrong dua tiga tahun di
kelas yang sama…
dua mata saya… hidung
saya satu..
satu mulut saya..
tidak berhenti makan…
dua tangan saya..
yang kiri dan kanan..
dua kaki saya pakai
sepatu baru…
nah lirik lagu ini terlalu menghegemoni
dalam kehidupan pradewasa anak-anak pada zamannya, entah apa yang menjadi
alasan dibalik penciptaan lagu ini. Bagus sih, lebih paham tentang indera kita…
tentang Mata, hidung, tapi kenapa juga
dengan mulut yang henti-hentinya mengunyah… pantesan anak-anak itu
terkena sindrom gigantisme… belum lagi
pas dinyanyiin di kelas taman kanak-kanak (dua tangan saya… nananana…. Yang
kiri dan kanan… dua kaki saya.. pakai sepatu baru) pas liat sepatu di kaki
sudah pudar warnanya.. sebelahnya lagi senyum-senyum meminta segera diganti… mama
papa pusing deh hampir tiap pulang sekolah merengeknya minta ampun…
itu aja dulu, tak lupa nitip empat jempol
buat beliau-beliau yang sudah membuat banyak karya, tanpanya apalah kita, anak
cucu kalian ini… daag…
No comments:
Post a Comment