OK

Monday, March 18, 2013

Suka-suka Masa Kecil

       Selamat malam pembaca dunia maya yang budiman. Icon tray laptop ini sudah menunjukkan pukul 12.01 am. Secara fisik @adyayat terlihat agak lusuh, hehe, baru bangun dari tidur setelah selepas magriban tertidur, eh apa ketiduran ya. Namun jauh di dalam sana, Ia telah tumbuh menjadi manusia yang lebih baik setelah pagi sampai sore tadi sharing bareng Mbak Ambi dan Mas Ayook... terimakasih Kelas Inspirasi Makassar… kali ini Ia tidak berpanjang lebar tentang itu, soal hari inspirasi, @PenyalaMakassar dan @KelasInspirasiMks, Ia akan meluangkan waktu tersendiri buat mereka. Susunan kalimat-kalimat di bawah ini sebentar akan bercerita tentang trending activities, best collection kala Ia dan teman-teman masih berumur jagung khusus buat remaja kelahiran 90-an lah. Oiah teman, mulai saja yah soalnya mata udah mulai sayu sendu nih. Informasi aja suasana malam ini agak melowdrama gitu jadinya gaya cara tulisanya juga ngikut.




        Saat masih di bangku sekolah dasar, bisa jadi Ia adalah sedikit dari sekian banyak kebiasaan yang unik dari teman-teman. Ngomong apasih saya, kebalik-balik gitu. Menurutnya unik karena kebiasaan yang ia jalani itu tidak seperti anak sebaya saya pada lazimnya. Nge-video game, petak umpet, lari lalu kejar-kejaran, sampai berantem juga favoritnya. Nah menjadi pengoleksi barang adalah kebiasaan yang akan Ia ceritakan lebih kurangnya yang tertemukan di muara sepenggal kenangan lalu. Inilah ia, saya. 
       @adyayat kecil senang ngumpulin uang koin maupun kertas. Ia mempunyai brankas sendiri yang terbuat dari kayu, tempat penyimpan barang-barang koleksinya lengkap dengan kunci pribadi. Storage itu tak lain dari komponen built in dari lemari pakaian dan tempat tidur sang mama papa. Setiap koin yang ia temukan akan diurutkan berdasarkan tahun produksi dan tentunya besaran mata uang. Konon koin 100 rupiah keluaran ’98 bisa dibuat cincin loh, tapi namanya juga anak-anak tahunya Cuma sampai disitu aja. Emang sih, jarang banget ia menemukan koin berdasarkan kriteria. Selebaran uang merah bergambar perahu; juga uang dengan monyet dan gambar rumah di sisi lainnya. Masih ingat gak lucu-lucuan yang berulang namun sering anak-anak sebayanya lakuin. Dengan semangat baja, panggil-panggil saja nama seorang teman sambil mengetuk pintu di sisi bergambar rumah. Laah tiba-tiba dengan cepat keluarlah suara dari balik pintu, teman yang dipanggilnya ada di belakang tuh sedang manjat-manjat pohon. Nah dibalik, beneran kan ada monyet yang sedang nongkrong di pepohonan. Seiring dengan semakin besarnya mata uang yang dicetak dalam jumlah satu lembar maka hobby ngumpulin duit kertasnya putus di persimpangan. Namun untuk koin-koin kebahagiaannya masih berlanjut kok sampai sekarang. Sekarang ia simpan di beberapa wadah kaca dengan ukuran yang berbeda. 

          Tidak terlalu lama, namun sempat menggegarkan segenap warga muda mudi sekolahan tingkat menengah pertama. Apalagi kalau bukan tukeran hati, eh bukan bukan… maksud saya tukeran kertas orji. Entah tulisannya bener atau salah. Yah ini orji… kertas dengan ukuran B5 atau bahkan lebih besar dengan gambar dan warna yang variatif. Si @adyayat dulunya penggemar boyband loh. Masa gak tau? Itu boyband asal skotlandia. Siapa lagi selain westlife. Selain itu karakter Winnie the Pooh juga masuk dalam list favoritnya. Mendingan daripada tokoh Pedro dan Ana dalam film Amigos. Ada saat naluri anak-anak menjadi lebih tertantang. Dengan menukarkan sejumlah uang dengan membeli makanan ringan hanya untuk mendapatkan mainan Tazos. Itu tuh hadiah dari citos, bacanya gitu gak boleh nulis merk yang bener, blog ini bukan untuk promosi hehe… berbentuk lingkaran dengan beberapa sisinya diberi celah untuk mengaitkannya dengan tazos yang lainnya. Bisa disusun, juga bisa diterbangkan. Gambarnya pun beragam, namun mayoritas dipenuhi oleh karakter singa waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, muncullah permen cupcup… seperti itulah, lagi-lagi disamarkan. Di dalamnya terdapat kartu bergambar karakter pocket monster sampai perubahan-perubahannya. Yang gemar nonton pockemon pasti tau, ada pikachu, raichu dan evolusi ketiganya.. cieee serius amat cerita animasinya… tapi kemahalan sih bagi @adyayat waktu itu. 


            Selanjutnya, sayang sih sudah tenggelam oleh modernisasi saat ini. Apalagi kalau bukan perangko. Yup, Ia mengikuti jejak saudara perempuannya yang menjadi filateli cilik. Senengnya luar biasa saat kepulangan ayah membawa amplop-amplop surat kantor yang masih terekatkan perangko. Feel-nya lebih dapet dibanding harus membeli perangko dari kantor ‘’jingga’’ pos. Ia masih mengingat teknik untuk melepaskan perangko dari amplop tanpa harus membuat rusak yakni dengan merendam air hangat. Diamkan sejenak, lalu tadaaa… sisa-sisa lemnya luluh kayak hati @adyayat sore tadi… sampai sekarang ia masih menyimpan dua album yang berisi perangko… Yaelahhh…. Sudah larut.. @adyayat dan penulis blog ini sudah terlena dalam sepotong jejak mimpi. Masih mencari-cari siapa gerangan yang berani menari-nari dalam benaknya saat ini. Tadaaa.. selamat malam manis… 


 Finished, icon tray 1.25 am.

No comments:

Post a Comment