Friday, September 04, 2015

Fort Rotterdam


Fort  Rotterdam  awalnya  bernama  Benteng  Jum  Pandang  (Benteng Ujung Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan GowaTallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah Barat Kota Makassar. Berdasarkan  Perjanjian  Bungayya  yang  ditandatangani  pada  tanggal 16 November 1657, Benteng Ujung Pandang  jatuh ke tangan Belanda. sejak saat itu, benteng ini berubah nama menjadi Benteng Rotterdam. Bangunanbangunan  kayu yang sebelumnya berada di dalam benteng dihancurkan dan diganti dengan  bangunan beton. Saat itu, Fort Rotterdam menjadi benteng  pertahanan  termegah  dan  terindah di akhir abad ke 17 dengan sebutan Kasteel atau Puri  karena  fungsinya  sebagai permukiman pejabat tinggi Pemerintah Belanda. (dikutip dari berbagai sumber)



Benteng yang disebut juga Benteng Pennyua (Bentuk site yang menyerupai hewan air Penyu) ini kini menjadi salah satu tempat favorit untuk dijadikan sebagai tujuan wisata kawasan kota tua di Makassar. Jika pada tulisan #30harikotakubercerita sebelumnya, penulis menuliskan sedikit tentang pantai losari; nah Benteng ini hanya terletak kurang lebih 10 menit waktu tempuh dari Pantai Losari. Sambil menyelam minum air, rasanya kurang mantap jika tak berkunjung tempat-tempat bersejarah lainnya di sekitar Benteng ini. Mereka adalah Gedung Kesenian Makassar Societet de Harmony, Catedral, Lapangan Karebosi, Kantor Pos, Kantor Walikota, Museum kota, dan Kantor Pengadilan, yang kesemuanya bisa diakses hanya dengan sekali jalan. Asyik kan!


Terdapat banyak bangunan yang dibuat bermassa di dalam benteng ini, dihubungkan dengan beberapa koridor baik itu selasar fisik maupun alam. Pepohonan, perdu, tanaman hias kian ditata sedemikian rupa sehingga membuat unity bangunan yang padu, nyaman dari segi utilitas, juga bagi pengunjungnya. Pilar-pilar yang besar yang dipasang berjarak sama memberi kesan kontinuitas yang kokoh, jendela dan pintu berukuran besar mencerminkan betapa vitalnya bangunan ini pada masanya.

Fort Rotterdam ini dibuka tiap harinya sampai matahari beralih ke senja, kecuali ada event-event tertentu biasanya sampai tengah malam lho. Di hari-hari biasa, orang-orang mulai ramai berdatangan kala sore hari. Banyak hal yang disuguhkan dari benteng yang bernuansa arsitektur belanda ini. Di samping bernilai ekologis, pengunjung juga bisa masuk ke dalam beberapa bangunan di antaranya Museum La Galigo dan Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro. Pokoknya tak ada ruginya menyelipkan sedikit tentang pengetahuan sejarah di sela-sela waktu bersantai.
Tata ruang dan landscape di benteng ini memungkinkan pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas. Beberpa titik seringkali dijadikan sebagai spot fotografer, tentu dengan tema yang artistik. Ada juga yang sengaja datang untuk melihat-lihat benda peninggalan sejarah, beberapa telah dilengkapi dengan texting sehingga dengan mudah dipahami oleh pengunjung. 


Penulis dan dua orang teman saat berkunjung ke Museum La Galigo

Tidak jarang, sepanjang koridor di tempati oleh komunitas dan kelompok keren, berleseh melingkar sekadar berdiskusi santai ditemani sedikit canda dan sesekali sesimpul senyum. Pun di taman, di atas rumput gajah mini terlihat banyak muda mudi memadu tawa dan cerita seru, tak lupa tongkat selfie mereka beraksi. Beberapa pengunjung yang telah berkeluarga tengah duduk di batas jalan paving yang memang dibuat sebagai tempat duduk, sengaja membiarkan anak-anaknya berlarian sana kemari. Dengan riangnya melompat, memutari batang pohon dan sesekali menjerit kegirangan. Pemandangan hidup itu sedikit mengghinggapi angan-angan penulis untuk kembali ke masa kecil, atau malah segera memantaskan diri menjadi orang tua, hihi…

Di akhir pekan biasanya terjadi peningkatan aktivitas dari pengunjung. Jika di hari-hari biasa akan ramai menjelang sore, akhir pekan sudah terlihat padat sejak pagi. Bagi pengunjung yang ingin melatih kemampuan berbahasa asing, silakan datang. Teman-teman kita dari beberapa organisasi & komunitas membuka kelas untuk kegiatan tersebut. Tenang saja, tak dipungut bayaran. Hihi… yuk ikutan, bertemu, mengucap salam dan bertukar ide.  

Di kejauhan, di atas dinding benteng yang berjarak kurang lebih 4 meter dari permukaan tanah nampak banyak pengunjung termasuk penulis sendiri duduk bersila sembari menunggu tenggelammnya senja. Perlahan lampu-lampu kota sudah mulai bersinar, ramai-ramai burung gereja kembali ke peraduan, kumandang di masjid pun bersahut-sahutan.  Satu persatu pengunjung kembali ke rumah masing-masing, pun penulis demikian. 


Sumber gambar: pic1, pic2, pic3, pic4 direktori penulis

No comments:

Post a Comment