Fort Rotterdam
awalnya bernama Benteng
Jum Pandang (Benteng Ujung Pandang) adalah sebuah benteng
peninggalan Kerajaan Gowa‐Tallo. Letak
benteng ini berada di pinggir pantai sebelah Barat Kota Makassar. Berdasarkan Perjanjian
Bungayya yang ditandatangani pada
tanggal 16 November 1657, Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda. sejak saat itu,
benteng ini berubah nama menjadi Benteng Rotterdam. Bangunan‐bangunan
kayu yang sebelumnya berada di dalam benteng dihancurkan dan diganti
dengan bangunan beton. Saat itu, Fort
Rotterdam menjadi benteng
pertahanan termegah dan
terindah di akhir abad ke ‐17 dengan
sebutan “Kasteel” atau “Puri”
karena fungsinya sebagai permukiman pejabat tinggi Pemerintah
Belanda. (dikutip dari berbagai sumber)
Benteng yang
disebut juga Benteng Pennyua (Bentuk site
yang menyerupai hewan air Penyu) ini kini menjadi salah satu tempat favorit
untuk dijadikan sebagai tujuan wisata kawasan kota tua di Makassar. Jika pada
tulisan #30harikotakubercerita sebelumnya, penulis menuliskan sedikit tentang
pantai losari; nah Benteng ini hanya terletak kurang lebih 10 menit waktu
tempuh dari Pantai Losari. Sambil menyelam minum air, rasanya kurang mantap jika
tak berkunjung tempat-tempat bersejarah lainnya di sekitar Benteng ini. Mereka
adalah Gedung Kesenian Makassar Societet de Harmony, Catedral, Lapangan
Karebosi, Kantor Pos, Kantor Walikota, Museum kota, dan Kantor Pengadilan, yang
kesemuanya bisa diakses hanya dengan sekali jalan. Asyik kan!
Terdapat banyak
bangunan yang dibuat bermassa di dalam benteng ini, dihubungkan dengan beberapa
koridor baik itu selasar fisik maupun alam. Pepohonan, perdu, tanaman hias kian
ditata sedemikian rupa sehingga membuat unity bangunan yang padu, nyaman dari
segi utilitas, juga bagi pengunjungnya. Pilar-pilar yang besar yang dipasang
berjarak sama memberi kesan kontinuitas yang kokoh, jendela dan pintu berukuran
besar mencerminkan betapa vitalnya bangunan ini pada masanya.
Fort Rotterdam ini
dibuka tiap harinya sampai matahari beralih ke senja, kecuali ada event-event
tertentu biasanya sampai tengah malam lho. Di hari-hari biasa, orang-orang
mulai ramai berdatangan kala sore hari. Banyak hal yang disuguhkan dari benteng
yang bernuansa arsitektur belanda ini. Di samping bernilai ekologis, pengunjung
juga bisa masuk ke dalam beberapa bangunan di antaranya Museum La Galigo dan
Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro. Pokoknya tak ada ruginya menyelipkan sedikit
tentang pengetahuan sejarah di sela-sela waktu bersantai.
Tata ruang dan
landscape di benteng ini memungkinkan pengunjung bisa melakukan berbagai
aktivitas. Beberpa titik seringkali dijadikan sebagai spot fotografer, tentu
dengan tema yang artistik. Ada juga yang sengaja datang untuk melihat-lihat
benda peninggalan sejarah, beberapa telah dilengkapi dengan texting sehingga
dengan mudah dipahami oleh pengunjung.
Penulis dan dua orang teman saat berkunjung ke
Museum La Galigo
Tidak jarang, sepanjang koridor di
tempati oleh komunitas dan kelompok keren, berleseh melingkar sekadar berdiskusi
santai ditemani sedikit canda dan sesekali sesimpul senyum. Pun di taman, di
atas rumput gajah mini terlihat banyak muda mudi memadu tawa dan cerita seru,
tak lupa tongkat selfie mereka beraksi. Beberapa pengunjung yang telah berkeluarga
tengah duduk di batas jalan paving yang memang dibuat sebagai tempat duduk,
sengaja membiarkan anak-anaknya berlarian sana kemari. Dengan riangnya melompat,
memutari batang pohon dan sesekali menjerit kegirangan. Pemandangan hidup itu
sedikit mengghinggapi angan-angan penulis untuk kembali ke masa kecil, atau
malah segera memantaskan diri menjadi orang tua, hihi…
Di akhir pekan
biasanya terjadi peningkatan aktivitas dari pengunjung. Jika di hari-hari biasa
akan ramai menjelang sore, akhir pekan sudah terlihat padat sejak pagi. Bagi
pengunjung yang ingin melatih kemampuan berbahasa asing, silakan datang.
Teman-teman kita dari beberapa organisasi & komunitas membuka kelas untuk
kegiatan tersebut. Tenang saja, tak dipungut bayaran. Hihi… yuk ikutan, bertemu,
mengucap salam dan bertukar ide.
Di kejauhan, di
atas dinding benteng yang berjarak kurang lebih 4 meter dari permukaan tanah
nampak banyak pengunjung termasuk penulis sendiri duduk bersila sembari
menunggu tenggelammnya senja. Perlahan lampu-lampu kota sudah mulai bersinar, ramai-ramai
burung gereja kembali ke peraduan, kumandang di masjid pun bersahut-sahutan. Satu persatu pengunjung kembali ke rumah
masing-masing, pun penulis demikian.
No comments:
Post a Comment