OK

Saturday, September 17, 2011

Amnesia

      Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunku. Tidak seperti biasanya, salam itu tak kunjung datang. Sambil duduk menyudut sesekali kulihat telepon genggamku berharap bertuliskan namamu. bosan kumenunggu, akupun tertidur.

     Setelah bangun, kuingat sesuatu. Kuatur langkahku menuju kalender yang bersandar lusuh di dindingku. Uhhm 15th Monday. so busy, sepertinya hari ini kupunya banyak agenda. mulailah kuurutkan sesuai prioritas ala pengalamanmu belajar manajemen. Dari sudut kanan bawah kuperbesar pupilku, berusaha memasukkan lebih banyak cahaya tuk Melihat deretan abjad merah yang tak teratur. Bukankah hari ini aku dan kamu akan bertemu di sebuah Taman di mana kita pertama kali bertemu. Tanpa berlama-lama, segera kuberanjak menyiapkan segalanya.


    Memilih dan memilah, akhirnya kujatuhkan pilihan untuk memakai kaos hitam bergaris putih. Warna kesederhanaan yang sering kau ceritakan padaku. Tak lupa kubeli cornetto mini kesukaanmu dalam perjalananku. Semakin dekat semakin berdebar pula jantungku. Perlahan kudekati sebuah benda yang terbuat dari kayu bernuansa cokelat muda. Dudukku sembari menunggu kedatanganmu. Kusengaja datang lebih awal, karena kupikir kali ini kutak mau didahului olehmu seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Beberapa waktu kemudian…..

      akhirnya sosok yang kutunggu datang juga. beda, yah menurutku kau begitu beda dari biasanya, gaun merah muda berdalamkan kaos putih, jepitan kupu-kupu di rambut setengah pundakmu, gelang dan perhiasan lainnya yang kau pakai, jelas bukan dirimu yang sebenarnya. Tapi semua itu sedikitpun tak mengubah apapun tentangmu bagiku. Sudah lama kutak melihat senyuman itu, sedikit kerutan di dahimu ikut mengangkat lesung pada pipimu. Hey segera kubangkit dari dudukku dan kaupun menghampiriku.

Beberapa waktu hening dan kupun terhenyak. Tetes air hujan menitik di wajahku, haru dan bingungpun saya dibuatnya. Melihat benda bundar di pergelangan kananku, ternyata dari sejam lalu kutertidur menunggumu di tempat ini. dengan sedikit mempercepat langkahku Akupun menuju ke arah pohon tidak jauh dari tempatku terlelap; berharap sementara dapat melindungiku dari hujan yang semakin deras saja. Tak sedikitpun kupalingkan wajahku ke tempat duduk itu, masih dan masih menunggu kedatanganmu. Selang beberapa waktu, dunia mimpipun perlahan hilang dan kupun berusaha untuk membuyarkan terkaku jika kau melupakan pertemuan ini. Kucoba untuk menghubungimu, tapi tak satupun kontakku yang bertuliskan namamu. sampai akhirnya semua buram dan saat kuterbangun aku sudah berada di tempat yang terasa asing bagiku. Sinar mentari perlahan memasuki ruangku menghangatkan aliran darah sampai ke sumsumku. Bersih, nyaman, dan ramah nian orang-orang disini pikirku. Seperti kuterlahir kembali. Kini, kau hanya meninggalkan sepenggal cerita. Hubungan kita dewasa dan sederhana. Hanya itu yang kutahu tentangmu. Hahay…

No comments:

Post a Comment